PM Thailand sebut Militer negaranya kuasai hampir seluruh target

1 month ago 33

Bangkok (ANTARA) - Perdana Menteri (PM) Thailand Anutin Charnvirakul pada Minggu (21/12) mengatakan bahwa pasukan Thailand telah menguasai hampir seluruh daerah target dan saat ini memaksa pasukan Kamboja untuk mundur, dan daerah-daerah tersebut diawasi secara ketat untuk mencegah terjadinya bentrokan baru.

Dalam sebuah wawancara dengan media Thailand di Provinsi Surin, Anutin mengatakan bahwa dirinya telah menginstruksikan Kementerian Luar Negeri untuk mengklarifikasi posisi Thailand dalam pertemuan khusus para menteri luar negeri ASEAN pada Senin (22/12), menekankan bahwa Thailand tidak melanggar perjanjian apa pun dan juga tidak menjadi pihak yang menyerang, serta semua tindakan yang diambil ditujukan untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional.

Dia menambahkan bahwa Thailand secara konsisten mematuhi prinsip-prinsip hukum internasional dan berusaha untuk mengendalikan situasi tanpa meningkatkan konflik.

Putaran terbaru konflik Thailand-Kamboja telah mengakibatkan kematian 34 warga sipil Thailand, kata juru bicara (jubir) Kementerian Pertahanan Thailand Surasant Kongsiri dalam konferensi pers pada Minggu, seraya menambahkan bahwa dengan intensitas bentrokan perbatasan yang berangsur-angsur menurun, penduduk di beberapa daerah mulai kembali ke rumah, dan jumlah tempat penampungan telah berkurang.

Menurut laporan media Thailand, pasukan Kamboja masih menembaki daerah perbatasan di Provinsi Sa Kaeo, Thailand, pada Minggu sore waktu setempat, mendorong pihak berwenang di Distrik Aranyaprathet untuk mengeluarkan pemberitahuan darurat agar penduduk pindah ke daerah yang lebih aman.

Jubir Angkatan Laut Thailand pada Minggu mengatakan bahwa seorang prajurit marinir terluka sebelumnya pada hari itu setelah menginjak ranjau darat ketika menjalankan misi di daerah Ban Nong Ri di Provinsi Trat.

Jubir tersebut menekankan bahwa insiden ini mengindikasikan pihak Kamboja masih menggunakan ranjau darat di daerah tersebut, yang merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |