PHRI harap penerbangan transit tak dihapus dari OTA

2 weeks ago 10
Indonesia ini negara kepulauan yang luas. Fakta bahwa traveling ke ujung Sumatera dan ke Indonesia Timur itu mahal, itu nggak bisa dipungkiri. Tapi jangan karena mahal, aksesnya malah dihilangkan,

Jakarta (ANTARA) - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran berharap agar pencarian penerbangan transit tidak dihapus dari online travel agent (OTA) ketika opsi penerbangan langsung sudah habis.

“Wacana agar OTA tidak lagi mengalihkan pencarian ke penerbangan transit ketika penerbangan langsung habis justru merugikan konsumen,” ujar Maulana dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Jumat.

Maulana menyampaikan, pernyataan tersebut sebagai respons atas kabar OTA yang diminta untuk tidak menampilkan rute transit dalam rangka menekan harga penerbangan.

Menurut dia, platform digital seperti OTA sejatinya hadir untuk membantu konsumen “menjahit” perjalanan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.

Baca juga: Pemerintah bantu pelaku usaha akomodasi pariwisata urus izin berusaha

Menutup opsi transit dinilai tidak menyelesaikan masalah, karena rute tersebut tetap akan muncul di platform lain, termasuk saat konsumen datang langsung ke maskapai.

Maulana menilai pendekatan tersebut tidak cukup efektif untuk menekan harga tiket pesawat.

“Indonesia ini negara kepulauan yang luas. Fakta bahwa traveling ke ujung Sumatera dan ke Indonesia Timur itu mahal, itu nggak bisa dipungkiri. Tapi jangan karena mahal, aksesnya malah dihilangkan,” kata Maulana.

Menurut PHRI, langkah penghapusan rute transit berisiko memperburuk kondisi daerah yang selama ini sudah terkendala konektivitas dan distribusi wisatawan.

Baca juga: Pemerintah lakukan penataan terhadap operasional OTA

Apalagi, lanjut dia, OTA bukan pihak yang menciptakan harga maupun rute, melainkan maskapai penerbangan itu sendiri.

“Sepaham saya, OTA itu tidak membentuk rute dan tidak membentuk harga. Itu create by system. Sistem yang membaca semuanya,” kata dia.

Ia membandingkan mekanisme tersebut dengan sistem pencarian hotel, di mana konsumen bisa melihat harga termurah hingga termahal, rating, dan kelas hotel secara terbuka.

Digitalisasi, menurutnya, justru memberi keleluasaan bagi masyarakat untuk memilih kombinasi perjalanan yang paling masuk akal.

Baca juga: Pemprov Jateng: Rute penerbangan internasional dibuka tarik investor

PHRI juga menyoroti lemahnya konektivitas domestik yang justru membuat rute luar negeri lebih menarik.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah Aceh.

“Sekarang orang mau ke Aceh harus transit ke Kuala Lumpur. Itu fakta. Penerbangan domestiknya kan paling cuma dari Jakarta. Bahkan dari Sumatera lebih murah ke Kuala Lumpur daripada ke Jakarta,” kata Maulana.

Dalam kondisi tersebut, menutup opsi transit di OTA dinilai bukan solusi, melainkan berpotensi memperparah keterisolasian daerah.

Baca juga: Indonesia AirAsia angkut 5,9 juta penumpang pada tahun 2025

“Masalahnya bukan di OTA. Yang harus dievaluasi itu faktor apa yang membuat tiket domestik mahal. Bukan menutup informasinya,” kata dia.

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |