Kairo (ANTARA) - Di Timur Tengah, kawasan yang sejak lama lekat dengan konflik, China pada 2025 muncul sebagai kekuatan yang semakin nyata dalam mendorong stabilitas.
Dari Gaza hingga Tepi Barat, dari Yaman hingga Iran, serta dari Sudan hingga Lebanon, keterlibatan China di kawasan ini ditandai oleh diplomasi tingkat tinggi, bantuan kemanusiaan, dan pembangunan jangka panjang.
Para analis menilai bahwa pendekatan Beijing, yang berakar pada dialog, prinsip saling menghormati, dan pembangunan konsensus, sangat kontras dengan intervensi tradisional Barat, sekaligus membuka jalur baru bagi kerja sama regional.
Menjelang akhir 2025, harapan pun menguat bahwa pada tahun mendatang pendekatan China yang pragmatis dan berbasis konsensus akan membantu untuk semakin memajukan upaya membangun kepercayaan, perdamaian, dan pembangunan di salah satu kawasan paling bergejolak di dunia itu.
Para analis mengatakan bahwa diplomasi China di Timur Tengah dipandu oleh prinsip saling menghormati dan konsensus, bukan syarat-syarat yang dipaksakan, sehingga dapat diterima oleh para pelaku regional yang skeptis akan mediasi Barat.
Pendekatan ini paling nyata terlihat dalam kesepakatan normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Iran pada 2023, sebuah terobosan diplomatik yang mengejutkan banyak pengamat setelah bertahun-tahun upaya regional menemui jalan buntu, serta dalam perundingan rekonsiliasi pada Juli 2024 yang digelar di Beijing dan dihadiri perwakilan 14 faksi Palestina.
Para pekerja menurunkan pasokan bantuan kemanusiaan dari China untuk Jalur Gaza dari sebuah pesawat di bandara Al-Arish di Provinsi Sinai Utara, Mesir, pada 19 April 2024. ANTARA/Xinhua Sepanjang 2025, China berulang kali menyampaikan sikapnya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai forum internasional lainnya, menyerukan gencatan senjata menyeluruh di Gaza serta kepatuhan berkelanjutan terhadap solusi dua negara.
Sikap tegas China dalam menjunjung keadilan internasional menjadi penyeimbang terhadap pendekatan yang terlalu berpihak pada salah satu sisi.
"China telah memainkan peran yang nyata dalam mendukung pembangunan infrastruktur dan kelembagaan Palestina, serta membantu memperkuat fondasi bagi berdirinya negara Palestina di masa depan," kata Suleiman Bsharat, analis politik yang berbasis di Ramallah.
"China bertindak sebagai katup pengaman di Dewan Keamanan PBB," kata Hassan Al-Daja, profesor kajian strategis di Universitas Al-Hussein Bin Talal, Yordania.
China juga memanfaatkan berbagai kesempatan lain, termasuk pertemuan bilateral dan forum multilateral, untuk memastikan isu Palestina tetap menjadi prioritas dan tidak tersisih.
Abbas Zaki, anggota Komite Sentral Fatah sekaligus komisaris hubungan Arab dan China, mengatakan bahwa sikap dan langkah China terkait isu Palestina dipandang sebagai contoh konstruktif dalam diplomasi internasional, dengan penekanan pada pembangunan konsensus dan solusi jangka panjang.
Pada awal Desember, China berkomitmen menyalurkan bantuan sebesar 100 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp16.790) kepada Palestina guna membantu meringankan krisis kemanusiaan di Gaza serta mendukung pemulihan dan rekonstruksi.
Komitmen tersebut menjadi salah satu contoh dukungan China bagi rakyat Palestina dan negara-negara lain di Timur Tengah yang dilanda krisis, sekaligus mencerminkan komitmennya terhadap stabilitas kawasan.
Foto ini, yang diambil pada 11 September 2025, menunjukkan pertemuan darurat Dewan Keamanan di markas besar PBB di New York. ANTARA/Xinhua/Xie E Di seluruh Timur Tengah, proyek-proyek yang didukung China di sektor transportasi, energi, dan layanan publik telah membantu menjawab kebutuhan mendesak masyarakat sipil sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang. Upaya-upaya tersebut, menurut para pengamat, meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengurangi tekanan sosial, bahkan ketika solusi politik masih sulit dicapai.
Investasi China dalam pembangunan dan infrastruktur di negara-negara yang terdampak krisis turut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi upaya mencari solusi politik yang efektif, kata Khalid Haroub, profesor ilmu politik dan analis politik di Northwestern University, Qatar.
Seluruh 22 negara Arab dan Liga Arab telah mendukung Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI), sementara empat inisiatif global utama China, yakni Inisiatif Pembangunan Global (Global Development Initiative/GDI), Inisiatif Keamanan Global (Global Security Initiative/GSI), Inisiatif Peradaban Global (Global Civilization Initiative/GCI), dan Inisiatif Tata Kelola Global (Global Governance Initiative/GGI), mendapatkan dukungan luas di kawasan tersebut.
"China secara luas dipandang sebagai penjaga perdamaian, dan persepsi ini bukanlah kebetulan," kata Shraga Biran, kepala Institute for Structural Reforms di Israel.
"China tidak pernah mengejar pembangunan dengan mengeksploitasi negara lain atau hidup dari sumber daya mereka, juga tidak mencari keuntungan geopolitik melalui kekacauan," ujarnya. "Pendekatan yang konsisten ini telah menumbuhkan kepercayaan di Timur Tengah. China tidak sekadar menyampaikan cerita, melainkan menawarkan solusi yang realistis, pragmatis, dan dapat dilaksanakan."
Selama setahun terakhir, China secara konsisten menekankan penghormatan terhadap kedaulatan, menyerukan deeskalasi dan dialog, serta mendorong keadilan dan kesetaraan dalam berbagai isu Timur Tengah.
Ketika Israel dan Iran saling melancarkan serangan langsung pada Juni lalu, China mendesak komunitas internasional agar meningkatkan upaya untuk mendorong perundingan dan meredakan ketegangan. Terkait konflik dan krisis di Laut Merah, Sudan, dan Lebanon, Beijing secara konsisten menyerukan kepada pihak-pihak terkait agar menahan diri dan mencari penyelesaian damai.
Sikap adil China terhadap berbagai isu Timur Tengah serta konsistensinya dalam mengadvokasi perdamaian dan pembangunan telah mendapatkan apresiasi tulus dan dukungan dari negara-negara di kawasan tersebut
Bsharat mengatakan bahwa China telah mendapat penghormatan dari banyak pelaku regional dalam beberapa tahun terakhir dengan memfasilitasi kerja sama melalui BRI serta berpegang pada kebijakan nonintervensi dalam urusan dalam negeri.
"Keterlibatan China dalam mediasi internasional mencerminkan pemahamannya yang mendalam mengenai situasi yang kompleks di kawasan itu," kata Haroub. "China berkomitmen mengajukan solusi praktis yang mengakomodasi kepentingan semua pihak, alih-alih memaksakan langkah sepihak."
"Pendekatan diplomatis China yang berbasis dialog, keseimbangan, dan penghormatan terhadap kepentingan semua pihak menjadi contoh bagi negara-negara lain serta membuka jalan menuju stabilitas dan pembangunan kawasan pada tahun-tahun mendatang," tambahnya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































