Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal dr. Febriansyah Darus Sp.OG Subsp.KFm menekankan pentingnya menjaga kesehatan saluran cerna dan mikrobiota usus di tengah meningkatnya angka kelahiran caesar di Indonesia.
"Perlu dipahami bahwa proses persalinan normal dan persalinan caesar dapat memberikan paparan lingkungan awal yang berbeda termasuk dalam proses kolonisasi mikrobiota usus anak pada awal kehidupan," kata Febriansyah dalam temu media di Jakarta, Rabu.
Menurut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) persalinan caesar di Indonesia mencapai 25,9 persen atau sekitar satu dari empat proses kelahiran pada 2023.
Angka tersebut diprediksi terus meningkat dalam dekade mendatang. Peningkatan persalinan caesar tidak hanya dipengaruhi oleh indikasi medis tetapi juga berbagai faktor non-medis.
Dokter lulusan Universitas Indonesia itu menjelaskan perkembangan mikrobiota usus perlu diperhatikan sejak masa kehamilan hingga setelah bayi lahir. Nutrisi ibu selama kehamilan, proses persalinan, pemberian ASI, serta pemenuhan nutrisi setelah melahirkan menjadi rangkaian faktor yang saling berkaitan dalam mendukung kesehatan ibu dan anak.
Baca juga: Asupan dalam menjaga mikrobiota usus seimbang untuk saluran cerna
Pada tiga tahun pertama kehidupan perkembangan mikrobiota usus pematangan saluran cerna dan perkembangan sistem imun berlangsung dalam periode yang penting. Keseimbangan mikrobiota pada periode tersebut perlu diperhatikan karena gangguan keseimbangan mikrobiota usus atau disbiosis usus dapat berdampak pada kesehatan saluran cerna dan perkembangan sistem imun.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi Dr. dr. Andy Darma Sp.A Subsp.GH(K) menambahkan berbagai faktor pada awal kehidupan termasuk metode persalinan dapat memengaruhi komposisi mikrobiota usus.
"Tiga tahun pertama kehidupan merupakan periode yang sangat penting karena mikrobiota usus terus berkembang bersamaan dengan proses pematangan saluran cerna dan sistem imun. Pada persalinan normal anak terpapar mikroorganisme berasal dari ibu yang berkontribusi terhadap pembentukan mikrobiota usus di awal kehidupan" katanya.
Menurut Andy proses tersebut umumnya dikaitkan dengan kolonisasi bakteri Bifidobacterium yang berperan dalam maturasi saluran cerna dan perkembangan sistem imun.
Sementara itu anak yang lahir melalui persalinan caesar memiliki kolonisasi mikrobiota usus yang berbeda karena tidak melalui proses paparan yang sama selama persalinan.
Perbedaan pola kolonisasi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus pada awal kehidupan dan dikaitkan dengan meningkatnya risiko terjadinya disbiosis usus.
Baca juga: Menjaga saluran cerna anak demi tumbuh kembang optimal
Dia menekankan menjaga keseimbangan dan keragaman mikrobiota usus sejak awal kehidupan menjadi bagian dari upaya mendukung pematangan saluran cerna perkembangan sistem imun dan tumbuh kembang anak.
Saluran cerna tidak hanya berperan dalam proses pencernaan tetapi juga penyerapan nutrisi yang optimal untuk mendukung tumbuh kembang dan fondasi imunitas anak. Saluran cerna juga menjadi ekosistem kompleks yang dihuni sekitar 40 triliun mikrobiota.
Mikrobiota usus memiliki berbagai fungsi penting termasuk menjaga kesehatan saluran cerna dan mendukung regulasi sistem imun. Sekitar 70 persen sel imun tubuh berada di saluran cerna sehingga interaksi antara mikrobiota usus dan sistem imun berperan dalam proses pematangan serta fungsi daya tahan tubuh anak.
"Intervensi nutrisi berbasis sains termasuk sinbiotik dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung kesehatan saluran cerna. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sinbiotik dapat membantu memulihkan disbiosis usus pada anak yang lahir secara caesar" tambah dokter lulusan Universitas Airlangga itu.
Baca juga: Probiotik bisa jaga kesehatan mikrobiota yang terganggu akibat polutan
Baca juga: Ibu bersalin butuh waktu pemulihan minimal 3 bulan usai operasi caesar
Baca juga: Dokter: Melahirkan normal setelah caesar itu mungkin
Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































