Banda Aceh (ANTARA) - Pemerintah Aceh mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memanfaatkan bahan baku lokal dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di tanah rencong.
"Dengan optimalisasi belanja bahan baku lokal, maka bisa membantu menggerakkan perekonomian Aceh," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh, M Nasir, di Banda Aceh, Kamis.
Pernyataan itu disampaikan M Nasir saat melakukan rapat koordinasi penyelenggaraan MBG bersama Kepala BGN Regional Aceh Mustafa Kamal dan Koordinator Wilayah MBG serta Kepala Satgas MBG kabupaten/kota, di kantor Gubernur Aceh, Banda Aceh.
Nasir menyampaikan, hingga kini ratusan dapur MBG telah terbentuk dan jumlahnya terus bertambah. Jika seluruh target lebih dari 900 dapur terealisasi, maka sekitar Rp7 triliun anggaran bakal beredar melalui program tersebut.
Menurutnya, potensi besar ini harus dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi daerah dengan memastikan belanja bahan baku dilakukan di Aceh, bukan justru bergantung pada pasokan dari luar provinsi.
“Distribusi harus lancar, tapi yang lebih penting stok bahan baku tersedia di daerah. Jangan sampai beli ke luar Aceh,” ujarnya.
Ia menegaskan, minimal 70 persen kebutuhan bahan baku dapur MBG dibelanjakan di Aceh, maka sekitar Rp5 triliun dana akan berputar dalam daerah, sehingga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Untuk itu, Nasir meminta pemerintah kabupaten/kota bertanggung jawab memastikan ketersediaan pasokan bahan baku di wilayah masing-masing.
Dirinya juga menginstruksikan agar dinas teknis dikerahkan guna mendorong masyarakat meningkatkan produksi, baik melalui penanaman sayur-mayur maupun pengembangan peternakan.
"Jika dengan bahan bahan lokal, kita optimis program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen strategis untuk menggerakkan ekonomi daerah dan menekan angka kemiskinan di Aceh," demikian M Nasir.
Pewarta: Rahmat Fajri
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































