Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana mengajukan kepada pemerintah pusat terkait pembangunan 'steel sheet pile' (SSP) atau turap baja sebagai tanggul permanen di sepanjang bantaran Sungai Citarum.
"Saya akan mengajukan ke pusat, saya ingin seperti yang di Kalimalang, namanya SSP," kata Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu.
Dia mengatakan pihaknya tengah memproses rancang bangun rinci atau detail engineering design (DED) turap baja di bantaran Sungai Citarum. Infrastruktur tersebut diharapkan bisa dibangun di tiga kecamatan yakni Muaragembong, Pebayuran dan Cabangbungin.
"Saat ini tercatat ada lima titik tanggul di wilayah Muaragembong dan empat titik di Pebayuran serta Cabangbungin masuk kategori kritis," katanya.
Asep berharap pembangunan turap berbahan dasar baja sebagai tanggul di lintasan tersebut mampu mencegah maupun meminimalisir dampak bencana ketika debit air Sungai Citarum meningkat.
Hingga saat ini, Pemkab Bekasi terus menjalin koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum (BBWSC) untuk memperbaiki tanggul kritis sebagai upaya penanganan sementara.
Baca juga: Tanggul Sungai Citarum jebol, 553 KK di Muaragembong terdampak banjir
"Saya sudah bicara dengan BBWSC, anggaran sudah disiapkan. Kita ingin dilakukan secepat mungkin untuk langkah preventif, pencegahan, jangan sampai nanti jebol lagi," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan pada BBWSC Jaya Sampurna menjelaskan kondisi air di hilir tampak besar meski kiriman dari hulu kecil yang dipicu curah hujan ekstrem maupun aliran sungai yang tertahan oleh air laut.
"Mungkin karena hujan besar di kawasan ini, selain itu ada banjir rob yang menahan laju air. Sehingga walaupun air di hulu kecil, tetapi di sini kelihatan besar," katanya.
Dia mengaku penanganan tanggul di wilayah Kecamatan Muaragembong terbilang kompleks. Selain curah hujan tinggi, banjir rob dari laut menahan aliran sungai ke muara, sehingga permukaan air tetap tinggi.
Berdasarkan data teknis, meski aliran dari Jatiluhur kecil, debit air di Kedung Gede tercatat 730 meter kubik per detik. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik tanah aluvial setempat.
"Tanah aluvial itu berasal dari endapan sehingga penanganannya harus ekstra. Kita harus menghitung pengaruh rob dan mensimulasikan agar turap permanen bisa andal," ujarnya.
Baca juga: Tanggul Citarum jebol, ratusan rumah terendam banjir di Muara Gembong
Baca juga: Gubernur Jabar sebut mulai relokasi warga bantaran Sungai Citarum
Jaya menyebut kondisi tanggul kritis di wilayah Muaragembong sudah terjadi sejak awal Januari 2026 ditandai sejumlah titik mengalami jebol dengan luas area bervariasi mulai 10-20 meter serta tingkat kerawanan sedang hingga tinggi.
"Ditambah jumlah personel kami yang terbatas. Untuk penanganan ada petugas OP, tapi untuk kawasan ini hanya tiga orang. Mereka terus berputar. Dari cerita masyarakat setempat, ini pun kondisinya kemarin masih biasa-biasa saja dan tidak terdeteksi akan jebol," kata dia.
Pewarta: Pradita Kurniawan Syah
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































