Pemerintah pindahkan warga terdampak tanah bergerak ke huntara BNPB

1 week ago 15

Kota Padang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Sumbar) mulai memindahkan dan menempatkan masyarakat yang terdampak bencana tanah bergerak ke hunian sementara (huntara) yang dibangun BNPB bersama TNI.

"Alhamdulillah 10 kepala keluarga sudah berada di huntara dan selebihnya akan menyusul dalam waktu dekat," kata Wali Nagari Bungo Tanjuang Yudisthira Anuggraha di Kabupaten Tanah Datar, Jumat.

Khusus di Nagari Bungo Tanjuang terdapat 76 jiwa dari 23 kepala keluarga yang terdampak bencana tanah bergerak. Secara bertahap masyarakat sudah mulai ditempatkan ke huntara yang dibangun di Jorong (dusun) Padang Kunyit, Nagari (desa) Bungo Tanjuang.

Yudisthira mengatakan Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mendatangi Nagari Bungo Tanjuang serta melakukan kajian. Temuannya, pergerakan tanah tersebut berkaitan dengan Sesar Sumatera sehingga menyebabkan beberapa rumah warga retak hingga ambruk.

"Kajian dari Badan Geologi, Jorong Padang Kunyit, Nagari Bungo Tanjuang ini merupakan bagian dari Sesar Sumatera," jelas dia.

Baca juga: TNI-BNPB kebut pengerjaan huntara bagi korban tanah bergerak Sumbar

Ia mengatakan informasi dari Badan Geologi pergerakan tersebut juga dipicu oleh tingkat kelembapan tanah seiring curah hujan yang tinggi di akhir November 2025. Kondisi itu menyebabkan sejumlah rumah mengalami pergeseran dari posisi awal hingga terancam ambruk.

"Saat ini banyak lantai rumah dan struktur fondasinya sudah terbelah dan amblas," ujarnya.

Pemerintah melalui BNPB terus mempercepat pengerjaan 19 unit huntara di Jorong Padang Kunyit, tiga unit di Jorong Kapuah dan satu unit di Jorong Haru. Pembangunan huntara diharapkan tuntas sebelum masuknya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, dan tidak ada warga yang menjalankan ibadah puasa di tempat pengungsian.

Sementara itu, salah seorang penghuni huntara, Syafrizal mengatakan tanah bergerak yang terjadi di akhir 2025 menyebabkan rumahnya retak dan bergeser dari posisi awal.

"Ada beberapa retakan yang terjadi akibat tanah bergerak. Kami khawatir jika ditempati rumahnya bisa ambruk," ujar dia.

Baca juga: Progres jembatan perintis Aceh Tamiang capai 49,55 persen

Baca juga: Pemprov Lampung serahkan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana Aceh

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |