Jakarta (ANTARA) - PricewaterhouseCoopers (PwC) memproyeksikan, pasar privat bakal menjadi kontributor utama pendapatan industri manajemen aset global pada 2030.
Segmen ini diperkirakan menyumbang lebih dari separuh total pendapatan industri, dengan nilai mencapai 432,2 miliar dolar AS seiring meningkatnya minat investor terhadap aset alternatif dan produk investasi berbasis teknologi.
"Pasar privat menjadi mesin pertumbuhan industri, dan tokenisasi muncul sebagai salah satu kekuatan paling transformatif dalam asset manajemen global. Meskipun adopsinya masih berada pada tahap awal, potensinya untuk memperluas akses dan mengubah pengalaman investor tidak dapat disangkal," kata PwC Indonesia Advisor John Dovaston dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Mengutip laporan PwC's 2025 Global Asset & Wealth Management Report, pasar privat akan tetap menjadi mesin paling menguntungkan dalam industri manajemen aset dengan tingkat laba per 1 miliar dolar AS aset kelolaan (AUM) sekitar empat kali lebih tinggi dibandingkan manajer aset tradisional.
Baca juga: Gandeng PwC, Bank Mandiri lengkapi layanan advisory nasabah prioritas
Secara keseluruhan, total AUM global diperkirakan melonjak dari 139 triliun dolar AS pada 2024 menjadi 200 triliun dolar AS pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 6,2 persen.
Sementara itu, total kekayaan global yang dapat diinvestasikan diproyeksikan melampaui 481 triliun dolar AS pada akhir dekade ini, didorong oleh pertumbuhan segmen mass affluent dan high-net-worth individuals (HNWI)
"Namun, meskipun laporan ini menunjukkan bahwa pendapatan terus meningkat, para asset manajer masih menghadapi tekanan profitabilitas dan penyempitan margin di tengah persaingan yang semakin ketat, tekanan biaya, kebutuhan talenta berkualitas, serta investasi yang besar untuk melayani segmen klien yang semakin canggih dan beragam," ujar John.
Lebih lanjut, laporan PwC mencatat 89 persen manajer aset melaporkan adanya tekanan margin dalam lima tahun terakhir.
Baca juga: PwC: Adopsi AI bisa tambah 15 poin persentase ke PDB global pada 2035
Bahkan, laba per AUM tercatat turun 19 persen sejak 2018 dengan biaya operasional yang menyerap sekitar 68 persen dari setiap dolar pendapatan.
Tekanan biaya juga berdampak pada perilaku investor.
Hampir tiga perlima investor institusional menyatakan kemungkinan mengganti manajer aset hanya karena struktur biaya yang dinilai terlalu tinggi.
Kondisi ini mendorong perusahaan manajemen aset untuk melakukan transformasi model bisnis secara lebih mendasar, bukan sekadar pemangkasan biaya.
Baca juga: OJK minta PPATK telusuri transaksi keuangan PT Dana Syariah Indonesia
Dalam merespons tantangan tersebut, pemanfaatan teknologi menjadi kunci.
Sekitar 50 persen manajer aset menyatakan menargetkan konvergensi dengan wealth manager dan perusahaan teknologi finansial (fintech), dengan integrasi akal imitasi (AI) dan otomatisasi sebagai prioritas utama.
Selain itu, tokenisasi aset dipandang sebagai salah satu kekuatan paling transformatif, dengan AUM dana bertokenisasi diproyeksikan melonjak dari 90 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 715 miliar dolar AS pada 2030, atau tumbuh dengan CAGR 41 persen.
Separuh asset manajer menyatakan bahwa konvergensi dengan wealth manager dan perusahaan FinTech akan memberikan dampak paling signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan mereka pada 2030, melampaui tokenisasi dan adopsi aset digital (38 persen).
Baca juga: Ekonomi digital RI sumbang pajak Rp12,24 triliun hingga November
Dua pertiga (69 persen) investor institusional mengindikasikan kecenderungan untuk mengalokasikan modal kepada asset manajer yang mengembangkan kapabilitas teknologi guna menawarkan produk dan layanan yang lebih unggul.
"Manajer aset tengah berevolusi di Era Inteligensi, seiring teknologi baru, mulai dari Generative AI hingga Agentic AI, mengubah cara nilai diciptakan dan disalurkan. Pemenang bukanlah mereka yang mengumpulkan aset terbanyak, melainkan mereka yang mampu bertransformasi paling cepat, menerjemahkan inovasi menjadi ekosistem digital yang melayani investor yang semakin beragam, dengan cara yang lebih personal dan efisien daripada sebelumnya," kata PwC UK Global Asset & Wealth Management Leader Albertha Charles.
Maka dari itu, PwC menilai, perusahaan yang mampu beradaptasi paling cepat melalui penguatan infrastruktur digital, pemanfaatan data, serta strategi terintegrasi antara pasar publik dan privat akan berada pada posisi terbaik untuk menangkap peluang pertumbuhan industri manajemen aset di era transformasi menuju 2030.
Baca juga: Jalin dan AFTECH kerja sama pembentukan konsorsium pendeteksi fraud
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































