Pameran seni soroti tantangan rasial yang masih terjadi di AS

3 months ago 16

Los Angeles (ANTARA) - "MONUMENTS", pameran yang sedang berlangsung di Geffen Contemporary di Museum of Contemporary Art (MOCA) di Los Angeles, Amerika Serikat (AS), menyedot banyak perhatian dan memicu perdebatan publik mengenai isu ras, memori, dan narasi sejarah, isu-isu yang sudah berlangsung lama di negara itu.

Setelah proses persiapan selama delapan tahun, pameran seni ini berlangsung mulai 23 Oktober hingga 3 Mei tahun depan. Pameran itu mengkaji warisan "supremasi kulit putih" dan "penindasan terhadap warga kulit hitam" di AS dengan menampilkan karya-karya seni kontemporer berdampingan dengan monumen publik peninggalan Konfederasi yang awalnya didirikan oleh pihak yang memicu dan pada akhirnya kalah dalam Perang Saudara Amerika pada 1860-an.

Perang Saudara Amerika, yang berlangsung dari 1861 hingga 1865, merupakan perang antara pihak Union (Utara) melawan Konfederasi (Selatan), yang memisahkan diri dari Union untuk mempertahankan perbudakan. Negara-negara bagian Union berjuang untuk menghentikan Konfederasi dan akhirnya menang sehingga memastikan semua negara bagian tetap tergabung dalam satu pemerintahan federal Amerika Serikat.

Pada 1863, Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Proklamasi Emansipasi, yang menyatakan bahwa semua orang yang diperbudak di wilayah yang dikuasai Konfederasi harus dibebaskan.

Setelah perang itu, banyak patung dan monumen dibangun di ruang publik di seluruh negeri untuk memperingati konflik tersebut. Namun, penelitian menunjukkan fakta yang mengejutkan. Meskipun pihak Selatan kalah dan mendukung perbudakan, sebagian besar monumen publik justru didedikasikan untuk menghormati pemimpin dan nilai-nilai Konfederasi, bukan pihak Utara yang memenangkan perang.

Bagi banyak orang, monumen Konfederasi memiliki dampak yang sangat negatif terhadap komunitas Afrika-Amerika, karena menjadi pengingat sehari-hari akan warisan perbudakan, segregasi, dan ketidakadilan rasial yang terus berlangsung.

Seorang pejalan kaki melewati tulisan "Black Lives Matter" yang ditulis dengan cat kuning di Jalan 16th, yang kini berganti nama menjadi Plaza Black Lives Matter di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, pada 15 Juni 2020. (ANTARA/Xinhua/Wang Ying)

"Monumen-monumen itu didirikan oleh orang-orang Selatan yang putus asa, berusaha menjaga harga diri setelah kekalahan memalukan mereka, sekaligus mencoba menulis ulang sejarah dengan menggambarkan perjuangan mereka untuk memperbudak sesama manusia sebagai sesuatu yang 'mulia', bahkan 'heroik'," kata seorang guru sejarah dari Oregon Martin P., kepada Xinhua.

Menyusul sejumlah insiden bermotif rasial, termasuk penembakan massal pada 2015 di Gereja Mother Emanuel AME di Charleston, South Carolina; unjuk rasa mematikan Unite the Right pada 2017 yang diorganisasi oleh nasionalis kulit putih di Charlottesville, Virginia; dan pencopotan bendera Konfederasi dari Gedung Negara Bagian South Carolina oleh aktivis Bree Newsome pada 2015, hampir 200 monumen Konfederasi di seluruh negeri akhirnya dibongkar.

Pameran "MONUMENTS" awalnya dirancang untuk mengomentari semakin hangatnya perdebatan seputar monumen-monumen di AS yang memuliakan para mantan pemilik budak. Pameran ini juga lebih lanjut menantang otoritas narasi tradisional yang berorientasi pada orang kulit putih dengan cara menciptakan cara pandang baru terhadap monumen-monumen tersebut.

Pameran ini juga menjadi kritik terhadap struktur kekuasaan yang ada sekaligus ajakan untuk membangun visi Amerika yang lebih inklusif. Pameran itu menyoroti suara para seniman Kulit Hitam, Penduduk Asli, dan Orang Kulit Berwarna (Black, Indigenous, and People of Color/BIPOC) sehingga diskusi tentang isu ras dipimpin oleh mereka yang paling merasakan dampak dari warisan tersebut.

Pameran itu diselenggarakan bersama oleh MOCA dan The Brick, menampilkan monumen-monumen yang dipindahkan dari lokasi aslinya di luar ruangan kemudian dipajang dalam berbagai kondisi, mulai dari yang masih utuh hingga yang rusak parah akibat vandalisme.

Melalui instalasi berskala besar, karya multimedia, dan karya partisipatif, pameran ini mendorong pengunjung untuk merenungkan narasi-narasi yang telah membentuk memori kolektif Amerika, terutama yang berkaitan dengan isu rasial.

"Ini sangat intens dan benar-benar penting untuk dilihat oleh semua orang," ujar Mary M., seorang pengunjung, kepada Xinhua saat meninggalkan pameran dengan mata berlinang.

Pameran itu, imbuhnya, menunjukkan bahwa monumen bukan sekadar cerminan sejarah, tetapi, juga alat yang membentuk kesadaran publik, identitas, dan kebijakan, bahkan dapat menjadi sarana penindasan itu sendiri.

"Sebagai keturunan orang-orang yang diperbudak, kami berhak memiliki suara tentang bagaimana sejarah mengingat mereka," kata seorang warga Los Angeles bernama Shawna J. kepada Xinhua.

"Monumen-monumen ini hanyalah puncak gunung es, yang menunjukkan betapa kuatnya pengaruh rasisme dalam budaya AS hingga saat ini," seorang pengunjung bernama Walter T. menambalkan.

"Pemerintahan saat ini sedang mencoba untuk memutar kembali waktu ke era supremasi kulit putih sebelum Perang Saudara, yang tidak akan berjalan dengan baik," kata Marissa S., seorang manajer di industri teknologi.

Pewarta: Xinhua
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |