Jakarta (ANTARA) - PAM Jaya menindaklanjuti keluhan warga di wilayah Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mengalami kesulitan air bersih karena air PAM yang jarang mengalir dan kerap mengeluarkan bau tak sedap di wilayah tersebut.
“Laporan baru masuk ke kami minggu kemarin dan per kemarin tim operasional sudah melakukan perbaikan karena memang ada sedikit isu teknis di lapangan,” ujar Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM Jaya, Gatra Vaganza di Jakarta, Kamis.
Gatra pun mengonfirmasi bahwa adanya bau tak sedap pada air PAM bisa saja disebabkan aktivitas galian di sekitar lokasi yang berpotensi mengganggu jaringan pipa distribusi.
“Kalau ada galian dan mengenai pipa kita, kemudian pipa tersebut terkontaminasi, misalnya dengan air got atau air sekitar, itu memang bisa menimbulkan bau,” ucap Gatra.
Mengenai air yang masih belum mengalir, Gatra menuturkan pihaknya akan kembali melakukan pengecekan lebih lanjut terhadap keluhan tersebut.
“Kami akan kroscek lagi ke tim operasional, karena informasi yang saya terima kemarin pekerjaannya sudah selesai. Nanti akan kita telusuri untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” kata dia.
Baca juga: Warga Jembatan Besi Tambora Jakbar keluhkan kesulitan air bersih
Sebelumnya, warga di wilayah Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat mengeluhkan kesulitan air bersih karena air PAM yang jarang mengalir dan kerap mengeluarkan bau tak sedap sejak adanya proyek galian jalan di wilayah tersebut.
Salah satu warga RT 003/RW 003 Jembatan Besi, Harijani (64), mengaku bahwa belakangan ini air PAM di rumahnya sering mati total dan hanya mengalir sesekali dengan debit yang sangat kecil.
“Air mati total itu bisa sampai hampir dua bulan, terus ketika keluar juga paling cuma satu atau dua ember. Kadang juga kalau keluar airnya keruh dan bau-bau air got,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Kamis
Kondisi air PAM tersebut, kata dia, tidak layak untuk digunakan untuk kebutuhan memasak dan konsumsi, sehingga dia terpaksa membeli air setiap hari untuk kebutuhan memasak.
“Kalau keadaan airnya seperti itu enggak memungkinkan digunakan untuk masak, jadi saya beli air pikulan setiap hari buat masak. Sementara kalau untuk mandi atau cuci, saya ambil air dari musala,” kata Harijanti.
Baca juga: Pram minta PAM Jaya tak sekaligus lakukan galian di beberapa lokasi
Menurutnya, kondisi ini terjadi disebabkan lantaran adanya pekerjaan galian di sekitar lingkungan rumahnya, yang membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
“Dari sejak ada galian air jadi sering mati, bahkan sempat sampai mati total hampir sebulan. Kalau keluar juga itu kecil banget, setetes-setetes. Kadang nyala, kadang mati lagi,” ujar dia.
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































