Jakarta (ANTARA) - Dua pakar teknologi dan bisnis menekankan pentingnya kecepatan implementasi dalam proyek kecerdasan buatan (AI) agar menghasilkan dampak bisnis yang terukur, bukan sekadar jargon teknologi.
IT MSE Mar & Ad Tech Business Analyst Nestle Indonesia, Febrina Wisata, menilai tantangan utama dalam proyek AI bukan terletak pada aspek teknis, melainkan pada kedisiplinan menjalankan proses.
“Saat kami beralih dari visi ke Proof of Concept (POC), kami menyadari bahwa tantangan sebenarnya bukan hal-hal teknis, melainkan disiplin, tonggak pencapaian yang jelas, dan keselarasan antartim. Itulah yang membuat kami terhindar dari jebakan antara ide dan keunggulan. Ninety days or nothing,” ujarnya dalam sesi keynote AI Talk 2.0 2025 yang digelar di Thamrin Nine Gold Ballroom, Jakarta, Selasa.
Baca juga: Empowering Indonesia Report soroti pilar utama kedaulatan AI nasional
Sementara itu, Ray, Chief AI Officer AISensum, menegaskan bahwa keberhasilan implementasi AI ditentukan oleh kecepatan dan kejelasan tujuan bisnis.
“Ini bukan tentang teknologi, tetapi tentang nilai dan kecepatan. Kita berpindah dari ide menuju dampak dalam 90 hari, dan kecepatan itu datang dari kejelasan,” katanya.
Ray menjelaskan, perusahaan perlu memahami terlebih dahulu apa yang ingin dicapai sebelum memutuskan POC sebagai jembatan antara kecepatan dan akurasi dalam menyesuaikan indikator kinerja utama (KPI).
Baca juga: Lintasarta perkuat ekosistem AI nasional melalui Pitch Day Semesta AI
Senada dengan itu, Febrina menambahkan bahwa AI seharusnya menjadi alat untuk menghadirkan perubahan nyata.
“Kami memulai dengan misi menjadikan perusahaan lebih baik, lebih inovatif, dan lebih terhubung. Saat itulah kami membayangkan bagaimana AI dapat membantu mencapai hal itu bukan sebagai kata kunci, tetapi sebagai upaya nyata yang menciptakan dampak,” katanya.
Keduanya sepakat, proyek AI yang sukses dimulai dari langkah sederhana: uji cepat, perencanaan biaya dan komputasi yang bijak, pembangunan dasbor sejak awal, pembuatan prototipe kecil, pengujian lapangan berkelanjutan, serta menghubungkan hasil dengan laba atas investasi (ROI) dan laba atas waktu (ROT).
Baca juga: Indonesia pamerkan produk fesyen hingga AI di CAEXPO 2025 China
“Ini berarti menghubungkan dampak dengan nilai. Karena kecepatan tanpa nilai hanyalah gerakan tanpa arah,” tutup Febrina.
AI Talk 2.0 2025 diselenggarakan oleh AISensum dan dihadiri profesional dari berbagai sektor industri. Acara ini bertujuan mendorong adopsi AI yang lebih praktis dan berorientasi hasil di lingkungan korporat Indonesia.
Baca juga: LeadX 2025 wadahi dan bedah posisi AI bagi bisnis
Baca juga: AI generatif berbasis cloud dukung transformasi digital lintas bisnis
Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































