Pakar ITB: Cimahi terancam krisis air bersih akibat eksploitasi tanah

3 days ago 12

Cimahi (ANTARA) - Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas mengingatkan ancaman krisis air bersih di Kota Cimahi semakin nyata akibat masifnya eksploitasi air tanah yang berlangsung di tengah prediksi musim kemarau yang lebih panjang tahun ini.

"Kita tidak sadar telah melakukan eksploitasi air tanah, apalagi buktinya sudah ada di depan mata. Air tanah tiba-tiba kering, semakin parah kalau kemarau. Kita mesti khawatir, prediksinya kan di 2050 kekeringan ekstrem akan terjadi," katanya di Cimahi, Rabu.

Menurut dia, wilayah Kecamatan Cimahi Selatan menjadi kawasan paling rentan mengalami kekeringan karena sejumlah kelurahan sudah rutin mengalami kesulitan memperoleh air bersih setiap musim kemarau.

Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah menjadi daerah yang paling terdampak sehingga warga di wilayah tersebut bahkan harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Di luar musim kemarau saja, masyarakat di Cimahi Selatan itu ada yang kekeringan. Mereka harus beli air, di musim kemarau itu juga rutin disuplai tangki air bersih," ujarnya.

Ia mengatakan eksploitasi air tanah yang dilakukan berbagai pihak selama bertahun-tahun telah menyebabkan cadangan air terus mengalami penurunan di wilayah Bandung Raya.

Baca juga: BPBD Cimahi petakan daerah rawan antisipasi dampak El Nino

Berdasarkan kajian Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGL) Badan Geologi, penurunan muka air tanah di wilayah Bandung Raya mencapai sekitar 60 meter hingga 100 meter.

Heri menjelaskan akuifer atau lapisan penyimpan air pada kedalaman 50 hingga 100 meter telah mengalami kerusakan, sementara lapisan lebih dalam mulai terdampak akibat eksploitasi.

"Kemudian nanti ngebor lagi sampai di kedalaman 200 meter, nanti rusak lagi karena mencari air di titik yang lebih dalam. Kondisi itu kalau diteruskan, menyebabkan krisis air di 2050 itu tadi," katanya.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi mencatat sedikitnya 312 RW berpotensi mengalami kekeringan berdasarkan data kebencanaan serta koordinasi terkait dengan prediksi puncak musim kemarau dimulai bulan Agustus.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi Fithriandy Kurniawan, wilayah Cimahi Selatan masih menjadi daerah dengan dampak kekeringan paling parah dibandingkan kawasan lainnya.

"Kekeringan terparah yang kita catat itu dua tahun lalu. Kemudian paling parah ada di daerah selatan, memang karena warga mengandalkan air PDAM dan sebagian air tanah," ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, BPBD menyiapkan skema penyaluran air bersih melalui koordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Cimahi serta Perumda Tirta Raharja apabila terdapat laporan kekurangan air bersih dari masyarakat.

"Akan ada operasi sesuai kondisi, misalnya apabila ada laporan kekurangan air bersih kita akan koordinasi dengan pihak terkait seperti DPKP untuk memasok air bersih," katanya.

Baca juga: BNPB minta daerah waspada dampak kemarau panjang

Baca juga: BPBD: Semua kelurahan di Cimahi miliki titik potensi kekeringan

Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |