Jakarta (ANTARA) - Kualitas udara Jakarta pada Kamis pagi, masuk kategori tidak sehat, sehingga masyarakat diimbau untuk menggunakan masker jika beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 06.20 WIB, indeks kualitas udara (AQI) kota metropolitan itu berada di angka 152, yang menjadikannya kota dengan kualitas udara terburuk ketujuh di dunia.
Adapun, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Kinshasa, Republik Demokratik Kongo dengan indeks kualitas udara di angka 165. Kemudian di urutan kedua diikuti Doha, Qatar dengan indeks kualitas udara di angka 164, dan di urutan ketiga diikuti New York, USA dengan indeks kualitas udara juga di angka 163.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan respon cepat untuk menanggulangi pencemaran udara di ibu kota saat musim kemarau, yang diprediksi terjadi pada awal Mei hingga Agustus mendatang.
Langkah cepat penanganan pencemaran udara saat kemarau itu meliputi peningkatan kualitas sistem pemantau kualitas udara dan uji emisi kendaraan bermotor.
Selain itu Pemprov DKI juga memiliki Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU) yang sedang dievaluasi dari berbagai aspek, mulai dari tren PM2.5, beban emisi per sektor hingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.
Menurut Pemprov DKI, pengendalian pencemaran udara tidak dapat dilakukan oleh satu wilayah secara parsial sehingga diperlukan aksi bersama yang terintegrasi antar organisasi perangkat daerah serta kolaborasi lintas wilayah di sekitar Jakarta.
Baca juga: Pakai masker, kualitas udara Jakarta terburuk ketiga di dunia
Baca juga: Sabtu pagi, kualitas udara Jakarta terburuk kedua di dunia
Pewarta: Redemptus Elyonai Risky Syukur
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































