Nyawa tak boleh menunggu

1 week ago 8
Dalam kesehatan masyarakat, risiko bunuh diri terbentuk dari interaksi banyak faktor, bukan dari satu penyebab tunggal

Jakarta (ANTARA) - Masalah kesehatan jiwa tidak selalu datang dengan tanda dramatis. Sering kali perubahan bermula perlahan; seseorang mulai kehilangan minat pada hal yang dulu disukai, menarik diri, sulit tidur, merasa tidak berharga, atau menjalani hari sambil menyimpan beban yang tidak terlihat.

Karena itu, pencegahan bunuh diri tidak boleh menunggu seseorang mencapai titik krisis. Ia harus bekerja jauh sebelumnya, yaitu ketika perubahan masih dapat dikenali, pertolongan masih dapat dijangkau, dan intervensi masih memiliki ruang untuk mengubah arah.

Setiap 10 September, dunia memperingati World Suicide Prevention Day atau Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia. Peringatan ini diprakarsai pada 2003 oleh International Association for Suicide Prevention bersama Organisasi Kesehatan Dunia. Tahun 2026 menjadi tahun ketiga sekaligus penutup tema tiga tahunan 2024–2026, "Changing the Narrative on Suicide", dengan ajakan "Start the Conversation".

Pesannya bukan sekadar mengajak orang berbicara. Mengubah narasi berarti mengubah cara masyarakat, layanan kesehatan, sekolah, media, tempat kerja, keluarga, dan pemerintah merespons penderitaan psikologis. Orang yang sedang terpuruk tidak membutuhkan label. Mereka membutuhkan jalan menuju pertolongan.

Bukan sekadar masalah pribadi

WHO memperkirakan sekitar 727 ribu orang meninggal akibat bunuh diri pada 2021. Pada tahun yang sama, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun, sementara sekitar 73 persen kematian terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah.

Angka itu membongkar anggapan bahwa bunuh diri hanyalah persoalan individu yang “tidak mampu menghadapi hidup”. Dalam kesehatan masyarakat, risiko bunuh diri terbentuk dari interaksi banyak faktor, bukan dari satu penyebab tunggal. Kondisi kesehatan jiwa, trauma, kekerasan, kehilangan, konflik relasi, penggunaan zat, penyakit atau nyeri kronis, kesepian, diskriminasi, tekanan ekonomi, lingkungan sosial, serta akses terhadap layanan dapat saling mempengaruhi.

Karena faktor-faktornya berlapis, pencegahannya tidak dapat hanya mengandalkan satu pintu. Psikiater dan psikolog jelas penting, tetapi pencegahan juga berlangsung di puskesmas, ruang kelas, tempat kerja, komunitas, keluarga, platform digital, dan bahkan dalam cara media memberitakan kasus bunuh diri.

Dalam kebijakan publik, keberhasilan pencegahan tidak cukup diukur dari banyaknya seminar atau kampanye, melainkan dari seberapa cepat orang yang membutuhkan pertolongan dapat dikenali, dijangkau, dirujuk, dan ditindaklanjuti. Pencegahan terbaik bekerja sebelum keadaan berubah menjadi kegawatdaruratan.

Deteksi dini menjadi kebiasaan baru

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |