Jakarta (ANTARA) - Saat ini, ada ribuan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai kota di China.
Jumlah mereka tidak sedikit. Ada yang menyebut lebih dari 15 ribu orang, bahkan ada pula data yang menunjukkan angkanya telah mendekati 20 ribu mahasiswa.
Para mahasiswa Indonesia itu tersebar di berbagai kota di China, seperti Beijing, Guangzhou, Wuhan, Shanghai, Nanjing, Hangzhou, Xi'an, Chengdu, dan Tianjin . Mereka belajar teknik, kedokteran, hubungan internasional, ekonomi, hingga akal imitasi (AI).
Sepintas, hal ini tampak sebagai urusan pendidikan biasa. Anak muda mencari ilmu, universitas menawarkan beasiswa, lalu masing-masing pulang membawa ijazah. Selesai.
Namun, dalam perspektif hubungan internasional, cerita sesungguhnya jauh lebih menarik daripada itu.
Hubungan antarnegara pada abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh diplomat yang duduk di meja perundingan. Ia juga dibentuk oleh mahasiswa internasional yang berbagi ruang kelas, peneliti yang mengerjakan proyek bersama, hingga komunitas diaspora yang menjalin hubungan lintas budaya secara sehari-hari.
Karena itu, ketika terdapat ribuan mahasiswa Indonesia belajar di China, yang bergerak bukan hanya individu-individu muda pencari ilmu. Yang ikut bergerak adalah jaringan sosial, jaringan pengetahuan, dan jaringan persepsi yang perlahan membentuk fondasi hubungan kedua negara.
Dalam kajian hubungan internasional modern, fenomena seperti ini bisa dijelaskan melalui konsep people-to-people diplomacy. Diplomasi tidak lagi dimonopoli negara. Warga biasa juga menjadi aktor yang mampu mempengaruhi kualitas hubungan internasional.
Mahasiswa internasional berada pada posisi yang unik dalam hal ini. Mereka bukan diplomat resmi. Mereka juga bukan pejabat negara. Namun, mereka hidup langsung di tengah masyarakat negara lain dan mengalami realitas yang sering kali berbeda dari gambaran yang dibentuk media maupun politik.
Di sinilah nilai strategis diaspora akademik berperan. Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan dua masyarakat yang berbeda bahasa, sejarah, dan pengalaman politik.
Saluran komunikasi organik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































