Jakarta (ANTARA) - PT MRT Jakarta (Perseroda) mengatakan ruang multifungsi (extended concourse) Stasiun MRT Bundaran HI (BHI) akan menjadi contoh terkini dari pengembangan penataan ruang publik (placemaking development) kota modern Jakarta.
“(Bentuk placemaking development) Yang terdekat salah satunya di extended concourse BHI yang unik, karena dia bukan kawasan, dia hanya bagian dari stasiun, tapi placemaking versi mini itu akan mulai dijalankan di situ,” kata Division Head Business Planning and Expansion Division MRTJ Samuel Ryan Pradipta dalam rangkaian MRTJ Fellowship Program 2026, di Jakarta, Rabu.
Lebih lanjut, pengembangan placemaking di extended concourse BHI ini akan meliputi berbagai aktivasi kegiatan dan ekonomi yang inklusif, mulai dari event-event seni, hingga tenant usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Jadi itu (extended concourse BHI) adalah yang terdekat, tahun depan sudah akan jadi, sebelum bulan Juli, kalau tidak salah ya, itu sudah akan bisa dinikmati placemaking versi terdekat, yaitu di extended concourse BHI,” kata Samuel.
Pengembangan ini juga seiring dengan progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI-Kota yang telah mencapai 61,8 persen per Juni 2026 dan ditargetkan rampung sepenuhnya pada akhir tahun 2029.
Di sela kemajuan proyek tersebut, Samuel mengatakan MRTJ juga akan membawa placemaking development terdekat lainnya, yakni di MH Thamrin dan Monas yang ditargetkan bisa beroperasi pada Desember 2027.
“Thamrin ini cukup unik, karena Thamrin ini stasiun sentral MRT. Jadi nanti (jalur) timur-barat, utara-selatan, crossing-nya di situ,” ujar Samuel.
Dengan keunikan tersebut, ia menilai MRT Thamrin dan Monas bisa menjadi tempat yang mempertemukan beragam orang, tapi juga tetap menjunjung inklusivitas di dalamnya.
“Nah karena ini crossing, again, ini mix of culture, karena mungkin orang Jakarta Selatan bisa bertemu orang Jakarta Utara, nanti Jakarta Barat-Jakarta Timur sudah mulai bertemu di tengah,” kata Samuel.
“Jadi nanti pasti ini akan ada konsep placemaking baru, yang bisa mengakomodasi masyarakat dari empat regional tadi,” ujarnya menambahkan.
Menurut Samuel, hal ini juga tidak lepas dari karakteristik pengembangan placemaking yang melibatkan komunitas setempat guna menciptakan ruang publik yang nyaman bagi semua kalangan.
“Jadi memang semua komunitas ini harus dirangkul juga, supaya mereka mau bikin aktivitas di tempat yang placemaking-nya tadi sudah dibangun,” katanya pula.
Baca juga: MRTJ kembangkan penataan ruang publik, pacu ekonomi inklusif
Baca juga: MRT Jakarta mempertahankan nilai warisan dalam "placemaking" Kota Tua
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































