Jakarta (ANTARA) - Siapa bilang Lionel Messi sudah habis? Siapa bilang dia akan membebani tim nasional Argentina di Piala Dunia 2026 saat usianya yang akan menginjak 39 tahun di pekan depan?
Banyak orang menganggap puncak karier prestasi Messi adalah empat tahun lalu di Qatar ketika ia mengantarkan negaranya menjuarai Piala Dunia untuk ketiga kalinya. Momen itu seolah akan menjadi bab penutup sempurna dari perjalanan Messi yang telah memenangkan hampir seluruh trofi bergengsi.
Dan tahun ini, mungkin akan ada kisah baru yang lebih istimewa daripada itu. Pencapaiannya bisa saja lebih tinggi, karena tantangan yang ia hadapi berbeda.
Di Piala Dunia 2026 Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang ia hadapi bukan hanya 11 pemain lawan di lapangan, tapi juga suara bising orang-orang yang menyebutnya sudah terlalu tua untuk bersinar seperti dulu di panggung akbar dunia.
Namun, usia hanyalah angka bagi Messi. Baginya, "semakin tua semakin jadi".
Masa keemasannya memang telah lewat. Ia tidak lagi menggiring bola dari tengah lapangan, melewati tiga atau empat pemain sebelum mencetak gol spektakuler seperti satu dekade lalu. Namun visi bermain, ketajaman membaca situasi, dan kemampuannya sebagai sosok pembeda masih sama seperti dulu. Memang lebih pelan, tapi daya ledaknya masih sama.
Di lapangan, ia lebih sering berjalan daripada berlari. Bukan berarti melambat, tapi dia sedang menunjukkan ada cara lain untuk menjadi seorang pemain hebat. Ia mencontohkan bahwa bermain sepak bola sebenarnya sangat sederhana, namun justru di situlah letak kesulitannya.
Semua itu kita lihat di Stadion Kansas City, Kansas, Rabu pagi. Tiga gol untuk skor 3-0 kemenangan Argentina atas Aljazair di Grup J menjadi bukti, bahwa bagi tim Tango, sosoknya masih sangat berarti.
Bukan sebagai pengganti, tapi masih menjadi pemeran utama yang menentukan jalannya pertandingan.
Gol pertama datang dari kejelian Rodrigo de Paul yang menemukannya di ruang sempit pada menit ke-17. Hanya dalam empat detik, gocekan Messi di tengah depan kotak penalti yang diakhiri tembakan kaki kiri yang tak mampu dihentikan anak Zinedine Zidane, Luca Zidane.
Pada menit ke-60, Messi yang semula dari di posisi sayap kiri, tiba-tiba berada di kotak penalti untuk menyambar rebound tendangan keras Alexis Mac Allister yang gagal ditangkap dengan baik oleh Zidane. Messi menyelesaikan peluangnya ini dengan sangat tenang, dengan kaki kanan mendatar yang mengecoh Zidane karena bergerak ke arah yang berlawanan.
Zidane benar-benar menyaksikan pertunjukan sang GOAT (Greatest of All Time) sepak bola setelah pada menit ke-76 ciri khas penyelesaikan akhir Messi merobek gawangnya sekali lagi.
Messi hattrick untuk pertama kalinya di Piala Dunia. Sebuah pencapaian spesial karena ini datang tepat setelah 20 tahun debutnya di Piala Dunia bersama Argentina yang kini dijalaninya dengan 200 penampilan.
Untuk sementara, Messi yang mendekati masa akhir kariernya memimpin top skor sementara dengan tiga gol. Lebih spesial lagi, tambahan tiga gol membuatnya menyamai rekor Miroslav Klose sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan 16 gol.
Baca juga: Messi samai rekor Klose sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































