Mataram (ANTARA) - Mayoritas orang tua di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat mendukung kebijakan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang memblokir atau membatasi akses game online dan media sosial bagi anak-anak di bawah umur.
Suherman salah satu orang tua di Mataram, Sabtu, mengatakan, kebijakan ini dianggap krusial untuk mencegah kecanduan, paparan konten negatif, serta melindungi kesehatan mental anak.
"Secara pribadi, saya mendukung penuh terhadap langkah tegas Kementerian Komdigi memblokir dan menghapus situs maupun aplikasi permainan daring (game online) yang dinilai merusak mental generasi muda," katanya.
Hal tersebut disampaikannya menanggapi kebijakan Kementerian Komdigi yang resmi membatasi akses game online dan media sosial, termasuk Roblox, bagi anak di bawah 16 tahun mulai 28 Maret 2026.
Baca juga: Praktisi: PP Tunas lindungi anak dari bahaya dunia digital
Langkah itu bertujuan melindungi anak dari konten negatif dan adiksi, serta mewajibkan platform mematuhi regulasi rating usia atau Indonesia game rating system (IGRS).
Game online, lanjut bapak tiga putra ini, bisa berpotensi sebagai pintu masuk judi online terselubung, karena untuk mendapatkan poin-poin tertentu anak-anak harus melakukan pembelian kuota aplikasi dengan melakukan top up e-money.
Hal itu dianggap bisa menjadi pintu masuk bagi anak-anak untuk mengenal praktik perjudian, sebab anak-anak mulai terbiasa melakukan top-up untuk membeli item tertentu.
"Kami khawatir, kebiasaan anak-anak itu akan berkembang menjadi perilaku judi online di masa depan," katanya.
Baca juga: Mendikdasmen ingatkan guru perkuat literasi digital dukung PP Tunas
Oleh karena itu, langkah Komdigi dipandang sebagai upaya mendesak untuk menyelamatkan anak-anak dari ketergantungan digital dan risiko paparan judi online sejak dini.
Selain itu, kebebasan mengakses game online dan media sosial dikhawatirkan berdampak terhadap perilaku anak-anak saat ini yang cenderung kehilangan fokus akibat terlalu asyik bermain game dan media sosial tertentu.
"Anak-anak itu masih polos, mereka sering lupa waktu belajar karena hanya fokus bermain. Mereka lupa segalanya," katanya.
Karena itu, ia menilai kebijakan pemerintah untuk menghapus game-game tersebut sudah sangat tepat agar anak-anak dapat kembali segar secara pikiran dan fokus pada pendidikan mereka.
Baca juga: Mendikdasmen: Banyak anak tak punya teman akibat kecanduan gawai
"Dukungan kami sebagai orang tua diharapkan menjadi penguat bagi pemerintah untuk terus memantau ruang digital demi menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak-anak Indonesia," katanya.
Hal senada juga di sampaikan seorang ibu rumah tangga di Mataram, Emilia, yang memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan tersebut.
Penutupan akses game oline diharapkan dapat meningkatkan kualitas interaksi anak degan orang tua, serta teman sebaya mereka.
"Selama ini, kalau anak sudah pegang gawai enggan bermain dan berkomunikasi dengan teman sebaya bahkan orang tua," kata ibu dua anak ini.
Baca juga: Dokter nilai pembatasan medsos dukung tumbuh kembang anak
Pewarta: Nirkomala
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































