Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono menegaskan bahwa upaya restrukturisasi keuangan proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh masih membutuhkan proses dan waktu.
Agus Harimurti Yudhoyono atau yang akrab disapa AHY di Jakarta, Selasa, menegaskan bahwa pemerintah terus mengawal secara intensif langkah-langkah penyelesaian agar proyek strategis nasional tersebut tetap berjalan berkelanjutan.
AHY mengatakan pemerintah telah melakukan koordinasi lintas kementerian dan lembaga untuk mencari solusi terbaik terkait restrukturisasi proyek itu.
"Intinya kita ingin terus cari solusi yang terbaik ini masih butuh proses, butuh waktu dan kita tentu akan berkomunikasi dengan pihak Tiongkok semangatnya semua adalah mencari solusi. Kita ingin pastikan proyek yang besar dan juga strategis itu bisa terus eksis dan berjalan, bahkan semakin maju," katanya.
Keberlanjutan proyek tersebut dinilai penting, tidak hanya dari sisi transportasi, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah, lanjut AHY.
“Karena juga banyak yang berharap selain sampai dengan Bandung harapannya bisa tembus sampai dengan katakanlah Surabaya, Jawa Timur. Jadi itu akan menjadi salah satu game changer dalam konektivitas moda kereta yang diharapkan juga akan menumbuhkan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baru dalam jalurnya,” ujar dia.
Sebelumnya, AHY menyebutkan bahwa pemerintah juga mengkaji pembentukan komite nasional kereta cepat untuk memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam pengelolaan proyek tersebut.
"Kami juga sedang menyusun semacam komite nasional kereta cepat, karena ini juga penting untuk bisa mengambil langkah-langkah strategis maupun taktis," ujar dia di Jakarta, Selasa (20/1).
Menurut dia, komite nasional tersebut dirancang melibatkan berbagai kementerian terkait, dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sebagai koordinator serta Kementerian Keuangan guna memastikan aspek pendanaan dan tata kelola fiskal berjalan secara hati-hati.
Sementara itu, Pemerintah China menyebut dalam proyek kereta cepat, termasuk Proyek Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) Jakarta-Bandung atau Whoosh tidak hanya menilai keuntungan ekonomi, tetapi juga perlu ditinjau manfaat bagi publik.
"Perlu ditegaskan bahwa, ketika menilai proyek kereta api cepat, selain angka-angka keuangan dan indikator ekonomi, manfaat publik dan imbal hasil komprehensifnya juga harus dipertimbangkan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin (25/10).
Hal itu terkait dengan adanya permintaan dari pemerintah Indonesia untuk merundingkan restrukturisasi utang dengan China terkait kereta cepat Whoosh.
"Pemerintah kedua negara sangat mementingkan pengembangan proyek ini. Otoritas dan perusahaan yang berwenang dari kedua negara telah menjalin koordinasi erat untuk memberikan dukungan kuat bagi pengoperasian kereta cepat sehingga aman dan stabil," kata Guo Jiakun.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































