Jakarta (ANTARA) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong pembentukan konsorsium nasional pengembangan satelit sebagai langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan komunikasi dan teknologi Indonesia.
"Kita buat konsorsium bersama yang melibatkan asosiasi, industri, dan perguruan tinggi. Dukungan riset dapat diperkuat dari kampus, sementara pemerintah dapat mengalokasikan pendanaan agar kedaulatan teknologi semakin terjamin," kata Mendiktisaintek dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Menteri Brian menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah dalam pengembangan teknologi satelit nasional.
Integrasi riset dan inovasi dengan kebutuhan industri dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem teknologi yang mandiri dan berkelanjutan.
"Dalam kondisi tertentu, komunikasi menjadi sangat strategis. Ketergantungan terhadap pihak eksternal perlu dikurangi agar sistem komunikasi nasional tetap andal dan aman," ujar Brian Yuliarto.
Sementara, Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto menyampaikan bahwa industri satelit Indonesia tengah mengalami transformasi dari berbasis konektivitas menjadi berbasis solusi.
ASSI juga menegaskan bahwa satelit tetap menjadi solusi utama untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan.
"Dulu berbasis connectivity, sekarang berkembang menjadi solution-based. Connectivity telah menjadi komoditas, sehingga inovasi perlu didorong pada layanan digital dan solusi berbasis teknologi," ucap Risdianto.
Diketahui, Kemdiktisaintek dan ASSI juga menyoroti pentingnya pengembangan nano-satellite yang semakin relevan untuk mendukung kebutuhan komunikasi, pemantauan wilayah, serta kedaulatan nasional.
Pengembangan teknologi ini memerlukan orkestrasi nasional yang mencakup dukungan regulasi, akses peluncuran, serta kolaborasi lintas sektor.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































