Surabaya (ANTARA) - Di sebuah gang sempit di pesisir utara Kota Surabaya, atap seng berkarat pernah menjadi penanda batas antara bertahan dan menyerah. Dinding rapuh tak hanya menyimpan dingin malam, tetapi juga kecemasan panjang tentang masa depan. Di ruang sesederhana itu, persoalan rumah bukan sekadar soal bangunan, melainkan tentang martabat hidup.
Di titik inilah program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) menemukan relevansinya. Ia hadir bukan sebagai proyek fisik semata, melainkan sebagai intervensi sosial-ekonomi yang menyasar akar persoalan kemiskinan.
Dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada 2026, Provinsi Jawa Timur mencatat lonjakan signifikan pelaksanaan program ini. Dari hanya sekitar 3.000 unit pada tahun sebelumnya, kini meningkat menjadi sekitar 33.000 unit rumah yang diperbaiki.
Angka itu bukan sekadar statistik. Ia mencerminkan perubahan pendekatan negara dalam melihat rumah sebagai fondasi kesejahteraan, bukan sekadar kebutuhan pelengkap.
Fondasi hidup
Selama ini, kebijakan pengentasan kemiskinan sering terjebak dalam pendekatan sektoral. Bantuan sosial berdiri sendiri, program ekonomi berjalan terpisah, dan pembangunan fisik kerap tidak terhubung dengan peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh. BSPS mencoba memutus pola itu.
Di Jawa Timur, program ini tidak hanya memperbaiki rumah tidak layak huni, tetapi juga mengaitkannya dengan penguatan ekonomi keluarga. Skema seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) perumahan dan pembiayaan ultra mikro melalui PNM Mekaar menjadi pelengkap yang memperluas dampak program. Rumah yang diperbaiki tidak lagi berdiri sebagai hasil akhir, melainkan titik awal bagi mobilitas sosial.
Pendekatan ini penting. Rumah yang layak terbukti berkontribusi pada kesehatan keluarga, menurunkan risiko penyakit, meningkatkan kenyamanan belajar anak, hingga memperkuat produktivitas kerja. Dalam konteks ini, perumahan menjadi variabel strategis dalam menurunkan kemiskinan.
Lebih jauh, efek berganda dari program ini juga terasa nyata. Dengan asumsi satu unit rumah melibatkan tiga tenaga kerja, pembangunan 33.000 unit rumah berpotensi menyerap sekitar 99.000 pekerja. Belum termasuk sektor pendukung seperti transportasi, toko bahan bangunan, hingga pelaku usaha kecil di sekitar lokasi pembangunan.
Baca juga: Khofifah nilai BSPS turunkan kemiskinan dan perkuat ekonomi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































