Memahami hutan, menyayangi ibu dan menyelamatkan kehidupan

1 month ago 23
Yang salah adalah rencana penggunaan lahan, yang salah adalah lokasi pembangunan tidak sesuai daya dukung lingkungan, yang keliru adalah pengabaian kelestarian alam dan lingkungan

Yogyakarta (ANTARA) - “Indonesia sedang berduka. Semua sedang berduka. Hutan kita, ibu kita …,” kata Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Damayanti Buchori saat menjelaskan makna frasa hutan itu adalah ibu.

Profesor yang merupakan ahli serangga dan ekologi tata guna lahan itu mengatakan hutan adalah ekosistem yang kompleks. Di sana ada biodiversity atau keanekaragaman hayati, yang menjadi sumber pangan, sumber obat-obatan, sumber kehidupan.

Ia juga menjelaskan di sana ada proses jasa ekosistem yang menyebabkan kehidupan di Bumi terus berjalan.

Hutan mengatur siklus air, siklus hara, memberikan jasa ekosistem seperti penyerbuk, menjadi pusat keberadaan penyerbuk yang bertanggungjawab pada keberhasilan pertanian dan pangan manusia. Begitu kata Damayanti Buchori saat berbicara dalam “Refleksi Akhir Tahun 2025: Hutan Kita, Ibu Kita” yang diikuti daring di Yogyakarta, Senin (22/12).

Dalam hutan juga terdapat culture diversity atau keragaman budaya. Hutan tidak kosong, kata Damayanti. Karena interaksi manusia dan hutan sudah terjadi ratusan ribu tahun lalu.

Hutan adalah biocultural diversity. Keanekaragaman hayati biokultur itu menjadi tempat manusia belajar tentang alam, tempat manusia mendapatkan sumber inspirasi, tempat manusia belajar dan menguak rahasia kehidupan.

“Bagi saya, seorang perempuan, saya melihat hutan itu bukan hanya dari sisi bagaimana memanfaatkan hutan untuk kepentingan manusia, tetapi juga bagaimana hutan dengan segala kompleksitasnya menjadi fondasi kehidupan bersama bagi manusia dan nonmanusia,” ujar dia.

Peran hutan jangan disimplifikasi dan hanya menjadi sumber devisa jangka pendek semata, kata Damayanti menegaskan. Hutan yang kompleks itu rumah bagi serangga, bakteri, virus, jamur dan belowground diversity yang belum semua mampu manusia ungkap pasti manfaatnya bagi kehidupan.

“Masih banyak yang belum kita ketahui yang mungkin justru menjadi solusi bagi krisis iklim dan permasalahan kehidupan,” ujar dia.

Dari penjelasan Prof Damayanti itu tentu dapat dibayangkan betapa ruginya bangsa ini ketika potensi solusi permasalahan kehidupan di masa depan itu lenyap begitu saja bersamaan dengan hilangnya tutupan hutan-hutan Indonesia dengan sangat cepat.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |