Surabaya (ANTARA) - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya merancang cermin cerdas Hi-Me! berbasis multisensor dan deep learning untuk skrining kesehatan cepat yang mampu mendeteksi delapan parameter tanda vital tubuh sekaligus mendukung efisiensi pelayanan kesehatan.
Tim mahasiswa Departemen Teknik Biomedik ITS angkatan 2022 bernama Masuk Surga itu terdiri atas Nehemy Davis Suryanto, Andi Lisnaini Ramadhani, dan Wean Harmiwan Bontong, dengan dosen pembimbing Nada Fitrieyatul Hikmah ST MT.
“Alat ini merupakan hasil brainstorming tim kami dengan dosen pembimbing,” ujar salah satu anggota Andi Lisnaini Ramadhani di Surabaya, Selasa.
Gagasan pengembangan alat berawal dari dorongan dosen pembimbing agar penelitian tugas akhir dapat dikembangkan menjadi inovasi yang menjawab persoalan efisiensi layanan kesehatan.
“Hi-Me! dirancang untuk membantu mengurangi waktu antrean pasien yang kerap melebihi batas 60 menit sesuai ketentuan Kementerian Kesehatan,” kata Andi.
Hi-Me! memanfaatkan lima sensor utama untuk mengukur tinggi badan, berat badan, suhu tubuh, laju pernapasan, dan denyut nadi.
Selain itu, tiga model deep learning digunakan untuk mengestimasi tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, serta kadar gula darah secara non-invasif.
“Alat ini mampu melakukan pengukuran pada delapan parameter tanda vital tubuh hanya dalam kurun waktu tiga menit,” tambah Andi.
Baca juga: ITS kembangkan robot anjing cerdas untuk patroli dan mitigasi bencana
Perangkat tersebut juga dilengkapi sistem rekam medis elektronik atau electronic medical record (EMR) berbasis web sehingga pengguna dapat menyimpan dan mengakses riwayat pemeriksaan secara daring.
“Walau belum terintegrasi dengan sistem rumah sakit, kami meluncurkan EMR berbasis web agar data hasil pemeriksaan dapat disimpan dan diakses dengan mudah,” kata Andi.
Dari sisi efisiensi, integrasi delapan parameter dalam satu perangkat dinilai membantu tenaga medis memperoleh data awal kondisi pasien secara lebih praktis.
“Dengan satu alat, delapan parameter tubuh dapat terdeteksi secara otomatis, sehingga lebih praktis dan akurat karena telah diuji kalibrasinya,” ujar Andi.
Meski demikian, tim pengembang menyebut Hi-Me! masih memerlukan tahapan lanjutan sebelum diterapkan di fasilitas kesehatan.
“Hi-Me! sudah sekitar 50 persen siap, namun perlu peningkatan akurasi model deep learning, kalibrasi sensor, serta penelitian lanjutan sebelum digunakan secara komersial,” kata anggota lainnya, Wean Harmiwan Bontong.
Ke depan, tim berencana mengembangkan Hi-Me! agar lebih fleksibel dan dapat digunakan oleh seluruh kelompok usia.
Dengan slogan Your Health, Reflected in Seconds, inovasi ini diharapkan menjadi solusi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus mendorong transformasi digital sektor kesehatan.
Baca juga: Mahasiswa ITS sulap limbah minyak bumi jadi energi listrik
Inovasi tersebut juga menjadi implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, sebagai kontribusi mahasiswa ITS terhadap pembangunan kesehatan berbasis teknologi.
Pewarta: Willi Irawan
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































