Lobster di keramba, nilai dipetik di seberang

2 weeks ago 15
Di titik ini, lobster menjadi simbol ekonomi pesisir yang belum tuntas. Sumber daya ada, tetapi rantai nilai belum berpihak pada masyarakat lokal secara optimal.

Mataram (ANTARA) - Di sepanjang pesisir selatan Lombok hingga teluk-teluk tenang di Sumbawa, lobster bukan sekadar komoditas laut. Ia adalah denyut ekonomi, sumber harapan, sekaligus cermin rumitnya tata kelola sumber daya pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dari keramba jaring apung di Telong Elong hingga berita penyelundupan benih yang terus berulang, lobster menghadirkan paradoks sebagai potensi besar yang belum sepenuhnya menjelma menjadi kesejahteraan berkelanjutan.

NTB sejak lama dikenal sebagai salah satu “lumbung” benih lobster nasional. Perairannya yang hangat, kaya nutrien, dan relatif terlindung menjadikan wilayah ini habitat alami berbagai jenis lobster, terutama lobster pasir dan mutiara.

Namun, kekayaan alam itu juga menempatkan NTB di pusaran persoalan klasik, yakni eksploitasi, fluktuasi kebijakan, hingga ketimpangan antara nilai ekonomi di hulu dan hilir.

Data terbaru menunjukkan bahwa produksi lobster NTB belum bergerak stabil. Di Kabupaten Dompu, misalnya, sepanjang 2025 produksi lobster tercatat sekitar 1,53 ton sebagai angka yang masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan potensi ekologisnya.

Penurunan ini dipengaruhi berbagai faktor, yakni terbatasnya lokasi budidaya, persoalan ketersediaan bibit, hingga tekanan alih fungsi lahan pesisir yang berdampak pada kualitas perairan.

Situasi ini memperlihatkan bahwa lobster NTB masih bergantung pada model produksi yang rapuh. Budidaya memang tumbuh, tetapi belum merata dan belum sepenuhnya terintegrasi dengan perlindungan ekosistem.

Di sisi lain, NTB justru dikenal sebagai pemasok benih bagi negara lain. Fakta bahwa Vietnam yang dikenal sebagai produsen lobster dunia mengandalkan benih dari Lombok menjadi ironi yang kerap diulang, karena nilai tambah terbesar justru dinikmati di luar daerah, bahkan hingga ke luar negeri.

Di titik ini, lobster menjadi simbol ekonomi pesisir yang belum tuntas. Sumber daya ada, tetapi rantai nilai belum berpihak pada masyarakat lokal secara optimal.

Baca juga: Nelayan di Lombok Tengah mulai ekspor lobster

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |