Jakarta (ANTARA) - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memastikan petani tambak tidak akan kehilangan lahan jika menanam mangrove di lahan tersebut.
“Itu adalah kebohongan, itu hoaks kalau dikatakan kelompok masyarakat diajak menanam mangrove, nanti setelah mangrovenya jadi lalu pemerintah akan mengambil lahan atau tambak (petani). Itu hoaks, fitnah, dan hasutan yang tidak benar,” kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.
Ia menambahkan, pemerintah justru berkepentingan memastikan masyarakat memiliki kepastian hukum atas lahan yang mereka kelola.
Raja Antoni mengatakan, ia memiliki pengalaman saat menjabat sebagai Wakil Menteri ATR/BPN dalam program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Hal ini bertujuan memberikan sertifikat tanah kepada masyarakat secara massal.
Baca juga: Menhut: Penting perlindungan lahan basah kawasan biodiversitas tinggi
"Saya dulu Mantan Wamen ATR BPN, ada program PTSL, sertifikasi massal untuk masyarakat yang memiliki lahan. Nanti saya koordinasikan dengan Pak Gubernur, kita cek kanwilnya siapa, lalu bersama teman-teman kehutanan di sini kita identifikasi tambak-tambak yang belum disertifikat, yang sudah mengajukan tapi belum keluar, atau yang sertifikatnya sudah terbit tapi belum diambil,” kata Raja Antoni.
Ia menegaskan, pentingnya sertifikat sebagai perlindungan hukum bagi petani. Menurutnya, tanpa kepastian legal, justru ada risiko lahan diambil pihak lain.
“Kalau khawatir pemerintah mengambil, yang bisa terjadi justru sebaliknya, bisa saja orang lain yang mengambil karena mereka punya sertifikat. Jadi kuasai secara fisik lahannya, gunakan tambak dengan baik, dan urus sertifikatnya,” tegasnya.
Menhut menilai praktik menanam mangrove di area tambak sebagai contoh praktik baik (best practice) yang memberi manfaat nyata bagi petani.
Baca juga: Polisi ajak seluruh pihak jaga lingkungan pesisir Kepulauan Seribu
“Ini contoh teladan, dengan menanam mangrove justru produktivitas meningkat. Kalau tambak tidak ada mangrovenya, lama-kelamaan proses lingkungan hidup tidak berjalan optimal, tidak bisa menyerap karbon dan sebagainya, sehingga hasil tambak bisa menurun,” kata Raja Antoni.
Sementara itu, Menhut turut melakukan dialog dengan petani dan melakukan penanaman mangrove dalam rangka peringatan hari lahan basah sedunia di Desa Liagu, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Penanaman dilakukan bersama dengan masyarakat, Kepala Kerja Sama Pembangunan dan Penasihat Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia Alice Birnbaum, Gubernur Kalimantan Utara Zainal A. Paliwang, dan jajaran Kementerian Kehutanan.
Baca juga: KLH ingatkan perlunya perlindungan sistematis atas ekosistem perairan
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































