Langkah antisipatif industri perhotelan hadapi tantangan ekonomi

12 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) -

Founder dan CEO perusahaan manajemen hospitality Mora Group Andhy Irawan mengatakan pelaku industri perhotelan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menghadapi tantangan ekonomi, termasuk potensi penurunan pendapatan di tengah biaya operasional yang tetap tinggi.

Hal tersebut diutarakan Andy dalam diskusi Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bertajuk “Di Balik Klaim Pertumbuhan Pariwisata: Perspektif Bisnis Hotel” di Press Room Kementerian Pariwisata, Selasa.

“Paling enggak untuk existing, kita sudah prepare worst scenario. Tapi ini enggak se-ekstrem pandemi,” kata Andhy.

Baca juga: Peran tata kelola dalam pertumbuhan pariwisata

Ia menjelaskan, langkah antisipasi yang dibahas di internal industri antara lain penyesuaian jam kerja hingga skema unpaid leave atau cuti tidak berbayar apabila kondisi memburuk. Namun, ia menegaskan industri berupaya menghindari pemutusan hubungan kerja.

“Pendapatan berkurang, tapi cost tetap jalan. Kita enggak mecat. Kalau memang harus, ya penyesuaian, misalnya gaji 60 persen,” ujarnya.

Menurut Andhy, tantangan ekonomi saat ini tetap berdampak pada kinerja industri, namun skalanya masih dapat dikelola. Ia menilai situasi tersebut menjadi pelajaran dari krisis sebelumnya.

Baca juga: KoenoKoeni Semarang hadirkan penginapan bernuansa warisan budaya

“Kalau krisis, pasti ada dampak. Tapi ini bukan balik ke pandemi. Kita sudah belajar dari kemarin,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, Andhy menyebut sejumlah unit hotel yang dikelolanya masih mencatatkan kinerja positif, khususnya di beberapa daerah.

“Secara overall masih oke. Surabaya leading, Banjarbaru juga very leading. Bahkan ada yang sampai nolak-nolak,” ujarnya.

Baca juga: Budaya Betawi berpeluang masuk industri perhotelan di Jakarta

Ia menambahkan, strategi selektif dalam pengelolaan bisnis menjadi kunci menjaga kinerja. Menurut dia, fokus pada target dan segmentasi yang jelas membuat industri tetap bergerak.

“Saya sekarang lebih selected. Karena saya tahu goals-nya,” kata Andhy.

Selain faktor ekonomi, Andhy menilai tantangan industri perhotelan juga berkaitan dengan tata kelola, termasuk persoalan perizinan dan pengawasan akomodasi non-hotel. Ia menilai pemerintah daerah memiliki peran penting dalam pengaturan tersebut.

“Balik lagi ke mengatur. Kalau aturannya benar, fair, industri juga sehat,” ujarnya.

Baca juga: Strategi stimulus pariwisata Indonesia yang berbuah manis

Ia mencontohkan isu akomodasi berbasis sewa jangka pendek yang dinilai perlu pengawasan lebih ketat agar tidak menimbulkan persaingan yang tidak seimbang dengan hotel.

“Bukan soal ada atau tidak ada, tapi bagaimana mengaturnya,” kata Andhy.

Menurut dia, penguatan tata kelola menjadi kunci agar industri perhotelan tetap resilien (tangguh) menghadapi tantangan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan pariwisata nasional.

Baca juga: Kemenekraf kolaborasi dengan RedDoorz optimalkan aktivitas IP lokal

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |