Moskow (ANTARA) - British Broadcasting Corporation (BBC) berencana memangkas anggaran tahunan dalam tiga tahun ke depan dan melakukan PHK untuk menghemat biaya, kantor berita RIA Novosti melaporkan pada Jumat (13/2).
"Di tengah pasar media yang berubah cepat, kami terus menghadapi tekanan finansial yang signifikan. Karena itu, kami berencana melakukan penghematan lanjutan sekitar 10 persen dari total biaya dalam tiga tahun ke depan," kata juru bicara BBC, seperti dikutip harian Inggris Financial Times.
Biaya operasional lembaga penyiaran publik Inggris itu dilaporkan melampaui 2 miliar pound (sekitar Rp42,5 triliun) tahun lalu, sehingga pemangkasan anggaran diperkirakan mencapai sekitar 200 juta pound.
Direktur Jenderal BBC Tim Davie, yang mengumumkan rencana tersebut dalam telekonferensi, mengatakan bahwa pengurangan pegawai akan berdampak ke seluruh divisi, termasuk redaksi dan studio komersial.
Keputusan itu diambil setelah pemerintah menaikkan iuran televisi — sumber utama pendanaan BBC — sebesar 5,5 pound menjadi 180 pound (sekitar Rp3,8 juta) per tahun. Seluruh pemilik televisi di Inggris diwajibkan membayar iuran tersebut.
Laporan media lain menyebutkan bahwa kenaikan iuran itu terjadi di tengah persaingan ketat media berbayar seperti Netflix sehingga BBC menghadapi kesulitan untuk memenuhi tuntutan kualitas (value for money) dari pemirsa TV.
Pada Selasa, Davie mengatakan anggaran BBC World Service terancam habis pada Maret karena belum ada kesepakatan dengan Kementerian Luar Negeri (Foreign Office) terkait perpanjangan anggaran.
Pemerintah Inggris mulai meninjau kesepakatan tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menggugat BBC pada Desember lalu dan menuntut ganti rugi senilai US$10 miliar (sekitar Rp158,5 triliun) atas tuduhan mendistorsi pidatonya terkait peristiwa 6 Januari 2021.
Baca juga: Karyawan BBC menuduh perusahaannya menyiarkan peliputan memihak Israel
Penerjemah: Anton Santoso
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































