Korsel akan ikuti pertemuan militer bahas blokade Selat Hormuz

3 hours ago 2

Moskow (ANTARA) - Korea Selatan menerima undangan Prancis untuk mengikuti pertemuan militer internasional guna membahas blokade di Selat Hormuz dan upaya menstabilkan pelayaran, menurut laporan Yonhap pada Kamis (26/3).

Pada Rabu, Reuters melaporkan bahwa Kepala Staf Pertahanan Prancis Jenderal Fabien Mandon berencana menggelar konferensi video dengan para pemimpin militer dari berbagai negara untuk membahas upaya memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.

Pemerintah Korea Selatan (Korsel) memutuskan menerima undangan tersebut setelah mencermati situasi. Ketua Kepala Staf Gabungan Korsel Jin Young-seung akan mewakili negara itu, menurut laporan tersebut.

Sementara itu, pemerintah Korsel akan menurunkan pajak BBM mulai Jumat di tengah kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah dan terhentinya pelayaran secara efektif di Selat Hormuz, menurut laporan Yonhap.

Saat ini, pajak bensin dan solar telah dipangkas masing-masing 7 persen dan 10 persen. Mulai Jumat, pemangkasan tersebut akan meningkat menjadi 15 persen dan 25 persen.

Kebijakan baru itu resmi berlaku pada 1 April, tetapi akan berlaku surut sejak Jumat setelah penyesuaian harga bahan bakar ritel oleh pemerintah.

Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korsel menyatakan langkah tersebut akan diperpanjang dari akhir April hingga akhir Mei.

Baca juga: Krisis energi: Korsel perketat rotasi kendaraan di hari kerja

Menteri Koo Yoon-chul mengatakan harga solar global biasanya naik lebih cepat daripada bensin karena solar adalah bahan bakar utama bagi industri, transportasi, dan kehidupan sehari-hari.

Jika situasi memburuk, pemerintah dapat mempertimbangkan pemangkasan pajak lebih lanjut, tergantung pada harga bahan bakar global.

Berdasarkan regulasi yang berlaku, pajak bahan bakar di Korsel bisa dikurangi hingga 37 persen.

Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Eskalasi tersebut menyebabkan blokade de facto Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar global.

Gangguan itu juga memengaruhi ekspor dan produksi minyak di kawasan serta mendorong kenaikan harga energi dunia.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Korsel koordinasi dengan Iran amankan pelayaran di Selat Hormuz
Baca juga: Krisis energi: Korsel dapat prioritas suplai minyak dari UEA

Penerjemah: Fransiska Ninditya
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |