Kolaborasi strategis pertahanan aktif dan ketahanan diplomasi

2 weeks ago 14
Dengan postur pertahanan yang kuat namun tidak agresif, Indonesia memperoleh ruang manuver diplomatik untuk menegosiasikan kepentingan nasional dari posisi setara

Jakarta (ANTARA) - Di hadapan dinamika global yang semakin kompleks, adaptasi strategi pertahanan nasional juga terus berkembang.

Belakangan ini, Menhan RI mengungkapkan strategi pertahanan aktif dalam berbagai forum kebijakan. Pertahanan aktif adalah pertahanan yang tidak semata-mata mengandalkan kesiapan militer dalam menghadapi serangan konvensional. melainkan sebuah kerangka pikir strategis yang saling melengkapi dengan strategi ketahanan diplomasi.

Di tengah perkembangan peperangan modern yang berkepanjangan, atau perang berlarut, konflik antaraktor (baik state actor maupun non state actor) tidak selalu dideklarasikan sebagai perang, tetapi muncul sebagai tekanan multi-dimensi yang berlangsung lama.

Dalam perang berlarut, strategi pertahanan aktif menuntut kesiapsiagaan terus-menerus dan respons yang adaptif dalam konteks ancaman yang tidak eksplisit, tetapi nyata di ruang strategis global.

Berbeda dengan doktrin ofensif yang mengandalkan serangan militer, atau pertahanan pasif yang tidak memiliki kekuatan detterence effect, pertahanan aktif menekankan kewaspadaan tanpa agresi.

Bahwa Indonesia harus sanggup mempertahankan kedaulatan dan kepentingannya dalam jangka panjang, tidak hanya untuk kemenangan cepat, tetapi untuk ketahanan strategis dalam konteks dampak peperangan berlarut yang terus berkecamuk di berbagai belahan dunia.

Secara teoritis, pertahanan aktif dapat dipahami sebagai suatu strategi di mana negara tidak menunggu serangan musuh, melainkan secara proaktif membangun postur yang mampu mencegah, menahan, dan jika perlu beradaptasi dengan bentuk ancaman baru yang multidimensional. TNI dituntut untuk mampu membangun kredibilitas kemampuan sehingga mengurangi insentif pihak lain untuk menguji batas-batas negara.

Merujuk pada sejumlah negara yang mempraktekannya, strategi pertahanan aktif ini bukan hal baru. Negara sebesar Amerika Serikat (AS) di era kontemporer bukan hanya tentang kekuatan militer, tetapi integrasi deterrence dan integrated defense diterapkan dengan cara membangun aliansi global seperti NATO.

Doktrin AS seperti kebijakan integrated deterrence menekankan kesiapan militer yang matang sebagai pesan diplomatik untuk mencegah agresi sebelum pecah konflik terbuka, sekaligus mengatasi ancaman multi-domain termasuk siber dan ruang angkasa.

China menyatakan secara tegas strategi active defense sebagai prinsip operasi militernya. Militer mereka secara operasional siap melakukan respons tegas jika diperlukan. Strategi semacam ini dipadukan dengan pembangunan kemampuan A2/AD (Anti-Access/Area Denial) yang dimaksudkan untuk memastikan ruang strategis nasional tetap aman terhadap tekanan dari luar.

Di Asia Timur, Jepang mengembangkan strategi self-defense aktif dengan fokus utama pada sistem multilayer proteksi udara dan maritim untuk melawan ancaman, seraya memperkuat kerja sama sekutu di kawasan Pasifik. Strategi ini menekankan bahwa pertahanan aktif bukan konfrontasi, tetapi legitimasi mutualistik untuk membangun stabilitas regional.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |