Kesehatan jiwa di balik wajah yang terlihat baik-baik saja

2 weeks ago 4

Jakarta (ANTARA) - Krisis kesehatan jiwa di Indonesia sesungguhnya bukan gejala baru, melainkan kenyataan yang baru mulai terpetakan secara menyeluruh setelah sistem skrining nasional menjangkau lebih banyak orang.

Data terbaru Kementerian Kesehatan yang dipaparkan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus dalam sesi Mental Health Awareness mencatat satu dari tujuh orang di dunia hidup dengan gangguan jiwa, dengan prevalensi yang tetap tinggi, berkisar 10 hingga 17 persen, di semua kelompok usia, dari anak-anak hingga lansia. Gangguan jiwa, bahkan menempati posisi kedua penyebab menurunnya kualitas hidup produktif masyarakat Indonesia, lebih tinggi dari diabetes maupun penyakit kardiovaskular.

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi instrumen yang mengungkap skala persoalan itu secara lebih konkret. Sebanyak 33 juta penduduk telah diperiksa kesehatan jiwanya melalui program ini hingga Juli 2026, dengan gejala depresi dan cemas pada anak usia sekolah dan remaja tercatat sekitar 1,6 kali lebih besar dibandingkan pada kelompok dewasa dan lansia.

Angka ini sejalan dengan temuan yang lebih luas bahwa prevalensi depresi tertinggi secara nasional memang berada pada kelompok usia 15 hingga 24 tahun, jauh melampaui kelompok usia lain. Karena skrining kini terintegrasi langsung dengan layanan kesehatan primer. Gejala yang selama ini tersembunyi di balik rutinitas sehari-hari mulai bisa dikenali sejak dini, sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih berat.

Temuan pada kelompok pelajar memperkuat urgensi deteksi dini tersebut. Survei berbasis sekolah mencatat persentase siswa yang berpikir untuk mengakhiri hidup naik sekitar 1,6 kali lipat, dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023, sementara persentase yang mencoba mengakhiri hidup melonjak 2,7 kali lipat, dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen pada rentang waktu yang sama.

Usia 11 hingga 17 tahun tercatat sebagai kelompok dengan temuan kasus tertinggi berdasarkan laporan yang diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Kenaikan angka ini erat kaitannya dengan meningkatnya literasi kesehatan jiwa di kalangan generasi muda, yang membuat mereka lebih terbuka mengenali dan melaporkan gejala yang dialami dibandingkan generasi sebelumnya.

Kapasitas layanan kesehatan jiwa turut berkembang mengikuti perluasan jangkauan skrining tersebut. Kementerian Kesehatan mencatat 6.549 puskesmas kini mampu memberikan layanan kesehatan jiwa dan 1.450 rumah sakit telah memiliki layanan serupa, didukung 1.484 dokter spesialis jiwa yang tersebar di 324 kabupaten/kota serta 2.612 psikolog klinis di 311 kabupaten/kota.

Sebaran tenaga kesehatan jiwa memang belum menjangkau seluruh kabupaten/kota di Indonesia, mengingat rasio psikiater nasional masih berkisar satu berbanding 200 ribu penduduk. Sementara itu, standar ideal yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia berada di angka satu berbanding 30 ribu penduduk. Kesenjangan geografis itu yang membuat pendekatan berjenjang mulai dari promotif, preventif, hingga kuratif dan rehabilitatif, menjadi salah satu cara mengatasi kekurangan tenaga kesehatan. Sebagaimana kerangka yang disusun Kemenkes agar penanganan awal tidak bertumpu semata pada ketersediaan tenaga spesialis di tiap daerah.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |