Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan industri pengolahan nonmigas (IPNM) atau manufaktur memberikan kontribusi sebesar 18,56 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2026, dengan pertumbuhan di angka 5,51 persen.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza, di Jakarta, Rabu, menyatakan pihaknya menegaskan komitmen menjadikan sektor industri pengolahan nonmigas sebagai penggerak utama transformasi ekonomi nasional pada tahun depan.
Arah kebijakan tersebut difokuskan pada penguatan struktur ekonomi, peningkatan daya saing industri, serta keberlanjutan pembangunan.
"Kontribusi ekspor produk IPNM terhadap total ekspor ditargetkan naik sekitar 74,85 persen,” kata dia.
Selain mendorong ekspor, sektor industri juga tetap menjadi penopang penciptaan lapangan kerja. Pada 2026, kontribusi penyerapan tenaga kerja industri ditargetkan sebesar 14,68 persen dari total tenaga kerja nasional, dengan tingkat produktivitas mencapai Rp126,20 juta per orang per tahun.
Untuk mendukung target tersebut, investasi di sektor industri pengolahan nonmigas diproyeksikan mencapai Rp852,90 triliun.
Dalam rangka pemerataan pembangunan, pihaknya menargetkan peningkatan kontribusi nilai tambah industri di luar Pulau Jawa hingga 33,25 persen. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat struktur industri yang lebih inklusif dan berimbang antarwilayah.
Di sisi lain, sektor industri juga diarahkan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 6,79 juta ton CO2 ekuivalen pada industri prioritas.
Dari sisi komoditas, proyeksi pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada 2026 menunjukkan kinerja yang solid. Industri logam dasar diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 14 persen, diikuti industri pengolahan lainnya dan jasa reparasi sebesar 6,45 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 6,26 persen, serta industri makanan dan minuman sebesar 6,06 persen.
Sementara dari sisi kontribusi terhadap PDB, industri makanan dan minuman tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi terbesar mencapai 7,64 persen.
Selanjutnya, disusul industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,95 persen, industri barang dari logam dan elektronika sebesar 1,73 persen, industri alat angkutan sebesar 1,41 persen, serta industri logam dasar sebesar 1,30 persen.
Lebih lanjut, pada 2026 sektor industri agro diproyeksikan tetap menjadi penopang utama struktur industri nasional. Subsektor ini diperkirakan tumbuh 5,23 persen dan berkontribusi 9,6 persen terhadap PDB nasional, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 10,98 juta orang.
Nilai investasi industri agro diproyeksikan sebesar Rp251,6 triliun, dengan ekspor mencapai 68,62 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan tingkat utilisasi 74,62 persen.
Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) diproyeksikan tumbuh 4,77 persen dengan kontribusi 4,10 persen terhadap PDB nasional serta penyerapan 7,39 juta tenaga kerja. Nilai ekspor sektor ini diperkirakan mencapai 58,17 miliar dolar AS dengan investasi Rp198 triliun.
Sementara itu, Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) diproyeksikan menjadi motor utama pertumbuhan industri dengan laju tertinggi sebesar 6,62 persen dan kontribusi 4,75 persen terhadap PDB nasional.
Sektor ini memiliki orientasi ekspor dan investasi yang kuat, dengan nilai ekspor diproyeksikan mencapai 99,58 miliar dolar AS dan investasi Rp396,3 triliun.
Adapun Industri Kecil dan Menengah Aneka (IKMA) diproyeksikan tumbuh 4,88 dan diperkirakan menyerap 1,03 juta tenaga kerja, dengan nilai ekspor 9,63 miliar dolar AS dan investasi Rp6,9 triliun.
Baca juga: Kemenperin catat industri manufaktur tetap solid sepanjang tahun 2025
Baca juga: Kemenperin siapkan rencana pulihkan industri kecil terdampak bencana
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































