Kemenag perkuat peran zakat sebagai perlindungan sosial kebencanaan

3 weeks ago 9

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama memperkuat peran zakat sebagai instrumen perlindungan sosial keagamaan dalam penanganan bencana di Sumatera, dengan mengonversikannya lewat penyediaan makanan siap saji, kesehatan, hingga pembangunan rumah sementara.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag) Waryono Abdul Ghafur mendorong perubahan paradigma pengelolaan zakat dari sekadar bantuan karitatif menjadi sistem perlindungan sosial umat yang bekerja dari fase darurat hingga pemulihan.

“Zakat tidak boleh berhenti sebagai respons darurat. Ia harus bekerja sebagai sistem perlindungan sosial umat, menjaga agar penyintas tetap memiliki akses pangan, air bersih, pendidikan, listrik, dan konektivitas untuk memulihkan kehidupannya,” ujar Waryono di Jakarta, Selasa.

Melalui skema sinergi nasional zakat, dana umat dikonversi menjadi intervensi terukur, mulai dari 385 ribu porsi makanan siap saji hingga pembangunan 1.000 unit rumah sementara untuk menjamin keberlanjutan hidup penyintas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 hingga awal Januari 2026.

Pada tahap tanggap darurat, kata Waryono, sinergi nasional zakat bersama Baznas dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) memastikan kebutuhan dasar penyintas tetap terpenuhi.

Tercatat 385.330 porsi makanan siap saji telah disalurkan, dengan rincian 276.656 porsi di Aceh, 57.472 porsi di Sumatera Utara, dan 51.202 porsi di Sumatera Barat.

Selain itu, 239.021 paket sembako dan logistik keluarga juga didistribusikan untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangga di wilayah terdampak.

Baca juga: Kemenag sebut zakat bantu tingkatkan ekonomi masyarakat

Di sektor kesehatan, zakat menopang layanan di 37 titik pos kesehatan 19 titik di Aceh, 9 di Sumatera Utara, dan 9 di Sumatera Barat yang telah melayani 10.497 jiwa.

Seluruh layanan tersebut didukung oleh 5.874 relawan dan personel respons yang terjun langsung di lapangan untuk memastikan bantuan sampai dan berfungsi secara berkelanjutan.

Memasuki fase pemulihan, zakat diarahkan pada intervensi yang lebih struktural. Dompet Dhuafa membangun 1.000 unit Rumah Sementara (Rumtara) di tiga provinsi terdampak, dengan 200 unit ditargetkan selesai pada Januari 2026.

Sementara itu, Rumah Zakat membangun 100 unit hunian sementara (huntara) di Aceh Utara yang dibarengi dengan pelatihan konstruksi kayu bagi warga agar proses pemulihan turut memperkuat kapasitas masyarakat lokal.

Zakat juga digunakan untuk menjaga keberlanjutan layanan dasar. Di bidang pendidikan dan keagamaan, disalurkan 29 ribu mushaf Al Quran dan buku Iqra, serta 3.548 paket bantuan pendidikan siswa.

Untuk air bersih dan sanitasi, zakat mendukung distribusi 1,3 juta liter air bersih, pembangunan 60 sumur bor, dan pengadaan 10 unit alat filter air siap minum. Untuk memastikan wilayah terdampak tetap terhubung, turut disediakan 35 unit genset dan 15 perangkat Starlink.

Baca juga: Kemenag optimalisasi zakat dan wakaf untuk pengembangan pendidikan

“Dengan pendekatan ini, zakat tidak lagi semata bergerak berdasarkan empati sesaat, tetapi menjadi instrumen kebijakan sosial-keagamaan yang menopang daya tahan masyarakat di tengah krisis yang semakin kompleks dan berulang,” kata dia.

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |