Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama mencatat lebih dari 7.800 prestasi siswa madrasah di tingkat nasional dan 351 prestasi di level internasional, mencakup jenjang MI, MTs, hingga MA, yang menjadi bukti penguatan posisi madrasah sebagai bagian strategis pembangunan SDM.
“Madrasah hari ini tidak hanya menguatkan karakter keagamaan, tetapi juga membuktikan daya saing akademik di tingkat nasional dan global,” ujar Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno di Jakarta, Rabu.
Suyitno menjelaskan prestasi tersebut diraih melalui berbagai ajang strategis, antara lain Kompetisi Sains Madrasah (KSM), MYRES (Madrasah Young Researchers Supercamp), SNPDB, serta sejumlah olimpiade dan kompetisi riset internasional.
Pada 2025, capaian MYRES dan OMI Riset bahkan melampaui target lebih dari 16 persen, meskipun partisipasi KSM mengalami koreksi dibanding tahun sebelumnya.
Kemenag menilai tren ini menunjukkan pergeseran fokus prestasi madrasah dari sekadar kompetisi rutin menuju penguatan riset dan inovasi.
Dari sisi kebijakan, Direktorat Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah mendorong implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai fondasi pembelajaran.
Baca juga: Menag paparkan ketimpangan fasilitas madrasah dibanding sekolah negeri
Kurikulum ini telah melalui enam kali uji coba, disosialisasikan di 34 provinsi, dan menjadi dasar sejumlah regulasi kurikulum madrasah.
Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khadijah menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta dirancang untuk membangun keseimbangan antara prestasi akademik dan pembentukan karakter.
“Prestasi siswa harus sejalan dengan penguatan nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kepedulian lingkungan,” ujar Nyayu.
Penguatan ekoteologi diwujudkan melalui 1.826 madrasah adiwiyata sebagai baseline nasional, dengan proyeksi penambahan 642 madrasah per tahun. Pada 2025, KSKK juga menginisiasi penanaman 50.000 bibit pohon di madrasah negeri dan swasta.
Dalam aspek pendidikan ramah dan terintegrasi, jumlah madrasah inklusif meningkat tajam dari 728 lembaga pada 2023 menjadi 1.853 lembaga pada 2025, atau tumbuh lebih dari 155 persen dalam dua tahun. Kenaikan ini disertai penguatan regulasi, penyediaan sarana ramah disabilitas, serta pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD).
“Secara nasional, tercatat 2.665 Madrasah Ramah Anak yang tersebar di berbagai provinsi dan jenjang pendidikan,” kata Nyanyu.
Di samping itu,KSKK Madrasah mengalokasikan anggaran Rp402,86 miliar untuk revitalisasi dan digitalisasi sarana prasarana madrasah. Program ini mencakup rehabilitasi bangunan rusak serta penyediaan perangkat pembelajaran digital, sejalan dengan percepatan digitalisasi pendidikan nasional.
Baca juga: DPR dorong sinergi antarkementerian atasi masalah guru madrasah
Madrasah juga menjadi bagian dari implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Desember 2025, tercatat 13.703 madrasah dengan 2,31 juta siswa telah menerima manfaat program tersebut. Selain itu, lebih dari 9,1 juta siswa madrasah mendapatkan layanan cek kesehatan gratis.
Nyayu menegaskan bahwa penguatan prestasi siswa dan intervensi kebijakan berbasis data menjadi strategi jangka panjang pendidikan madrasah.
“Madrasah diposisikan sebagai instrumen pembangunan manusia unggul secara akademik, sehat, inklusif, dan berkarakter,” ujarnya.
Baca juga: Menag ajak guru madrasah wujudkan pendidikan beradab
Baca juga: Olimpiade Madrasah selesai, Menag akui kagum atas kompetensi peserta
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































