Kemdiktisaintek tekankan peran penting vokasi dukung ketahanan pangan

3 months ago 26

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menekankan peran penting perguruan tinggi vokasi untuk terus mendorong perannya dalam memberi solusi terhadap tantangan-tantangan yang dialami masyarakat di sekitar mereka, seperti pada bidang ketahanan pangan nasional.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan mendukung Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) Jawa Tengah adalah menyelenggarakan Festival Panen Raya Berdikari Jawa Tengah Tahun 2025 bertema “Panggung Inovasi: Teknologi Tepat Guna dan Sinergi Multipihak untuk Masa Depan Berkelanjutan” yang digelar di Semarang pada Kamis (6/11).

Baca juga: Mendiktisaintek arahkan riset-skripsi jadi solusi persoalan di daerah

"Ketahanan pangan bukan hanya tentang kemampuan memproduksi, tapi tentang kemampuan berinovasi," kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan melalui keterangan di Jakarta, Minggu.

Fauzan menilai hal ini menjadi tantangan bersama, karena kolaborasi antara kampus, industri, dan masyarakat adalah kunci menuju kedaulatan pangan nasional.

Senada dengan Fauzan, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto juga menegaskan pentingnya hilirisasi riset dan matching fund antara perguruan tinggi dan industri daerah agar hasil penelitian tidak berhenti di jurnal, tetapi hadir dalam bentuk solusi yang bisa diterapkan.

Ia menyebut pendekatan ini sejalan dengan visi Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto dalam Asta Cita, yang menempatkan inovasi dan kedaulatan pangan sebagai bagian dari kekuatan ekonomi nasional.

"Kemdiktisaintek mengajak seluruh perguruan tinggi untuk memperkuat riset berbasis kebutuhan lokal dan memperluas kemitraan dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat. Dengan kolaborasi dan teknologi yang tepat guna, desa bukan hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga sumber inovasi untuk masa depan berkelanjutan," ujarnya.

Sementara, Ketua Konsorsium PTV Jawa Tengah Kurnianingsih melaporkan bahwa melalui kegiatan ini, dikembangkan program penguatan ekosistem kemitraan untuk pengembangan inovasi berbasis potensi daerah.

Luarannya berupa produk hilirisasi riset yang telah diimplementasikan oleh berbagai industri dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

"Perguruan tinggi vokasi memiliki peran penting dalam memastikan inovasi teknologi tepat guna bisa langsung digunakan masyarakat. Kami tidak hanya berhenti di riset, tetapi juga mendampingi desa agar hasil inovasi itu bisa diterapkan dan dikembangkan secara mandiri," ucapnya.

Baca juga: Wamendiktisaintek ungkap 4 strategi perkuat peran kampus untuk negara

Baca juga: Wamendikti dorong pengembangan pendidikan seni, tingkatkan daya saing

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah pada tahun 2023 melaporkan sebanyak 42,01 persen petani Jawa Tengah berusia 43 tahun ke atas. Sementara, petani milenial berjumlah 18,78 persen dan petani generasi Z sebanyak 0,96 persen.

Selain itu, pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian masih di bawah 20 persen dari total pelaku usaha tani.

Dalam laporan yang sama, disebut bahwa jumlah usaha pertanian di Jawa Tengah pada 2023 adalah sebanyak 4.366.317 unit, turun sebesar 13,21 persen dibanding 10 tahun yang lalu, dengan jumlah 5.031.033 unit usaha.

Kondisi ketimpangan usia, penguasaan teknologi, dan berkurangnya usaha pertanian menimbulkan tantangan regenerasi dan transformasi sistem produksi agar lebih efisien dan adaptif terhadap perubahan iklim.

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |