KDM usul pemukiman Karangligar Karawang jadi danau untuk atasi banjir

1 week ago 15

Bandung (ANTARA) - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menawarkan solusi permanen untuk mengatasi banjir abadi di Desa Karangligar, Kabupaten Karawang, dengan merelokasi warga, dan mengubah kawasan tersebut menjadi danau penampung air.

Langkah ini diambil mengingat posisi geografis Karangligar yang berada di area cekungan, sehingga upaya teknis apa pun dinilainya tidak akan membuahkan hasil selama pemukiman tetap berada di titik terendah tersebut.

"Saya sampaikan kalau yang di cekungan Karangligar itu sampai kapan pun gak akan pernah selesai (banjir) karena itu cekungan, maka tawaran yang terbaik adalah relokasi," ujar Dedi yang akrab disapa KDM itu di Bandung, Jumat.

Dengan menjadikan area pemukiman lama sebagai danau buatan, kapasitas parkir air di Karawang diharapkan Dedi meningkat secara signifikan, sekaligus mengurangi beban aliran sungai di sekitar sana yang selama ini dikelola oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).

Sebagai model relokasi masa depan, Dedi mengusulkan konsep rumah panggung ekstrem. Ia merujuk pada proyek percontohan 10 unit rumah yang sebelumnya ia bangun dengan ketinggian lantai 2,5 meter dari permukaan tanah, namun dalam banjir Karawang kali ini juga tak lepas dari rendaman air.

Baca juga: Ratusan rumah terendam banjir di Desa Karangligar Karawang

Khusus, untuk Karangligar, Dedi mengusulkan standar ketinggian yang lebih radikal guna memastikan hunian tetap kering meski banjir besar melanda kawasan sekitarnya.

"Lantai atasnya kan tidak terendam, artinya konsep itu bisa dikembangkan. Nah dari contoh 10 itu ternyata kalau sekarang masih ada terendam di bagian bawahnya, ke depan, lantai bawahnya, tiangnya jangan lagi 2,5 meter, (tapi) 4 meter," ucap Dedi.

Akan tetapi, Dedi mengungkapkan pihaknya saat ini mengalami kendala besar dalam relokasi yang ternyata bukan pada ketersediaan lahan atau anggaran, melainkan pada inkonsistensi sikap masyarakat terdampak.

Ia menyebut ada pola psikologis di mana keinginan warga untuk pindah sangat tinggi saat bencana terjadi, namun surut seketika saat air mengering.

"Ini kan problem. Jadi saya dengan bupati sudah sepakat, pak bupati juga menyampaikan ke saya, gak ada jalan lain pak harus relokasi," katanya.

Ia menduga keengganan warga untuk berpindah secara permanen dipicu oleh kondisi fisik bangunan rumah mereka yang saat ini sudah tergolong bagus dan permanen, sehingga berat untuk ditinggalkan.

Tapi, Dedi memastikan bahwa koordinasi dengan pemerintah daerah setempat dan instansi terkait terus diperkuat agar penanganan banjir di Karawang tidak lagi bersifat darurat tahunan, melainkan penyelesaian tuntas secara struktural.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, menyebutkan banjir akibat meluapnya dua sungai besar yakni Citarum dan Cibeet, telah merendam ribuan rumah di 26 desa.

"Banjir di Karawang sudah berlangsung sejak beberapa hari dan kini daerah yang terdampak semakin meluas, karena meluapnya air Sungai Citarum dan Cibeet, serta sungai lainnya," kata Wakil Bupati (Wabup) Karawang Maslani di Karawang, Senin (19/1).

Sesuai dengan catatan BPBD Karawang, terdapat 3.162 rumah yang terendam banjir, tersebar di 26 desa dan 12 kecamatan sekitar Karawang. Sedangkan jumlah warga yang terdampak sebanyak 13.400 orang.

Baca juga: Pimpinan DPR: Pengendali banjir di Karangligar rampung tahun depan

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |