Jakarta (ANTARA) — Sejumlah karya mahasiswa Fashion Program BINUS University tampil dalam Hong Kong Centerstage Exhibition dan peragaan busana bertajuk “Roots to Rhythm” di Hong Kong, membawa eksplorasi desain dan kekayaan identitas Indonesia ke hadapan audiens internasional.
Partisipasi tersebut menjadi bagian dari pengalaman pembelajaran mahasiswa Fashion BINUS University untuk mengembangkan karya tidak hanya dari sisi teknik dan kreativitas, tetapi juga dalam konteks budaya serta perkembangan industri fashion global.
Dalam Hong Kong Centerstage Exhibition, mahasiswa menampilkan sejumlah karya yang lahir dari eksplorasi terhadap berbagai gagasan, mulai dari budaya dan identitas hingga bentuk, material, serta perkembangan gaya kontemporer.
Beberapa karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut antara lain “La Città di Smeraldo”, “Barnacles”, “Peranakan Chinese Betawi”, “RE.ORD”, “Musubi”, “Hua”, “Linked”, “RAW: Jamet Subculture”, “Accordion Bloom”, “Flesh & Form”, “Bound & Becoming”, “Rebloom”, “Intersect”, dan “La Brezza”.
Sementara itu, melalui fashion show “Roots to Rhythm”, mahasiswa menerjemahkan gagasan mengenai akar budaya dan identitas ke dalam karya fashion kontemporer. Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana inspirasi yang berasal dari lingkungan dan budaya Indonesia dapat dikembangkan menjadi karya yang memiliki konteks lebih luas.
Sejumlah mahasiswa yang karyanya terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut antara lain Kayleen Natasha Lukito, Faiza Khashia Latifa Buwono, Shahraz Qabila Parsa, Yiesha Akiela Martiza, Faeyza Dima Kamila, Maesya Aliya Raisabela, Shanelle Callista Hendra, dan Naomi Hilya Kartika.
Head of Fashion Program BINUS University Ratna Dewi Paramita mengatakan pengalaman tampil di Hong Kong memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat secara langsung bagaimana karya yang dikembangkan selama proses pembelajaran dapat berinteraksi dengan lingkungan industri fashion internasional.
“Kami ingin memberdayakan generasi baru desainer fashion Indonesia agar tidak hanya memiliki kemampuan kreatif, tetapi juga keberanian untuk mengambil tempat di panggung dunia. Kesempatan tampil di Hong Kong menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk melihat bahwa karya yang mereka lahirkan dari proses pembelajaran di kampus dapat memiliki ruang di industri fashion global,” ujar Ratna.
Menurut dia, pengalaman internasional juga menjadi bagian penting dalam membangun perspektif mahasiswa terhadap perkembangan industri fashion dan cara sebuah karya berkomunikasi dengan audiens yang lebih luas.
“Pendidikan fashion tidak berhenti ketika sebuah karya selesai dibuat, tetapi berlanjut ketika mahasiswa mampu membawa gagasan, identitas, dan kreativitasnya untuk dikenal di dunia internasional,” katanya.
Keterlibatan mahasiswa dalam ajang tersebut sekaligus memperlihatkan pendekatan pembelajaran Fashion Program BINUS University yang menggabungkan aspek akademik, kreativitas, industri, serta pengalaman global.
Melalui eksposur di luar negeri, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menguji gagasan desain dalam lingkungan yang lebih beragam sekaligus memahami bagaimana identitas lokal dapat diterjemahkan melalui pendekatan fashion kontemporer.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses membangun portofolio dan perspektif sebelum memasuki industri fashion. Sementara bagi pendidikan fashion, keterlibatan dalam panggung internasional menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan proses pembelajaran dengan perkembangan industri kreatif global.
Kehadiran karya mahasiswa Fashion BINUS University di Hong Kong menunjukkan bahwa pengembangan talenta fashion dapat dilakukan sejak bangku pendidikan melalui pengalaman yang mempertemukan kreativitas, identitas budaya, dan perspektif global.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































