Indonesia kebut penyelesaian negosiasi tarif dengan AS

1 month ago 21

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Indonesia memprioritaskan penyelesaian pembahasan perjanjian dagang dan negosiasi tarif dengan Amerika Serikat (AS) pada awal tahun 2026 mengingat negara tersebut merupakan mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat mitra perdagangan terbesar Indonesia pada periode Januari-November 2025 adalah China dengan nilai 58,24 miliar dolar AS, Amerika Serikat senilai 28,14 miliar dolar AS, dan selanjutnya India senilai 16,44 miliar dolar AS.

“Karena AS adalah partner (mitra) dagang terbesar ke-2 untuk Indonesia, sehingga kami ingin segera finalisasi (kesepakatan dagang) di awal tahun 2026,” ujar Juru Bicara Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian Haryo Limanseto saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan optimistis bahwa perjanjian dagang dengan AS dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian nasional.

Penyusunan rancangan (legal drafting) secara detail dan pengecekan akhir terhadap dokumen perjanjian (legal scrubbing) dijadwalkan berlangsung pada 12–19 Januari mendatang di Washington D.C., Amerika Serikat.

Selanjutnya, menurut dia, tim perundingan dari kedua negara ditargetkan untuk merampungkan dokumen final kesepakatan dagang (Agreements on Reciprocal Trade/ATR) pada minggu ketiga Januari.

Pemerintah Indonesia, lanjutnya, akan diwakili oleh tim perundingan dari Kemenko Perekonomian untuk melakukan tahapan legal drafting dan legal scrubbing tersebut.

“Tim (perundingan) rencana akan ke AS akhir minggu ini untuk proses legal drafting dan legal scrubbing antara kedua negara,” kata Haryo Limanseto.

Dokumen perjanjian tersebut ditargetkan untuk dapat ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada akhir Januari 2026.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan seluruh isu dan substansi dalam perjanjian tersebut pada prinsipnya sudah disepakati oleh kedua belah pihak.

Indonesia berkomitmen membuka akses pasar bagi produk-produk Amerika Serikat, mengatasi berbagai hambatan nontarif, serta memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, digital dan teknologi, keamanan nasional, dan kerja sama komersial lainnya.

Sementara itu, Amerika Serikat berkomitmen memberi pengecualian tarif bagi sejumlah produk ekspor unggulan Indonesia yang tidak diproduksi di AS, di antaranya minyak kelapa sawit, kakao, kopi dan teh.

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |