Imbas AS-Iran, CORE perkirakan defisit APBN bisa melebar Rp200 T

1 hour ago 1
Dalam skenario moderat, ketika harga minyak naik sekitar 15 dolar AS per barel, defisit APBN berpotensi melebar lebih dari Rp100 triliun. Bahkan dalam skenario yang lebih berat, pelebaran defisit bisa melampaui Rp200 triliun,

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bisa melebar hingga Rp200 triliun akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menurut Yusuf, dampak eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini terhadap APBN bisa datang dari dua kanal utama, yaitu kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.

“Keduanya memiliki konsekuensi langsung terhadap belanja negara, khususnya melalui subsidi energi dan beban pembiayaan,” katanya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Dari sisi harga minyak, jelas Yusuf, dampak konflik terhadap APBN cenderung negatif secara neto.

Baca juga: Celios: Konflik Iran-AS berpotensi bikin belanja APBN naik Rp515 T

Kenaikan harga minyak memang akan meningkatkan pendapatan negara, terutama dari sektor migas dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), namun kenaikan belanja negara jauh lebih besar karena pemerintah harus menanggung tambahan subsidi dan kompensasi energi.

Berdasarkan simulasi APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun, tetapi pada saat yang sama meningkatkan belanja negara sekitar Rp10,3 triliun.

Artinya, secara bersih, defisit dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun untuk setiap kenaikan 1 dolar AS per barel.

“Dalam skenario moderat, ketika harga minyak naik sekitar 15 dolar AS per barel, defisit APBN berpotensi melebar lebih dari Rp100 triliun. Bahkan dalam skenario yang lebih berat, pelebaran defisit bisa melampaui Rp200 triliun,” ujar Yusuf.

Baca juga: Belanja negara di NTB tembus Rp2,51 triliun pada Januari 2026

Selain harga minyak, pelemahan rupiah juga memberikan tekanan tambahan terhadap APBN. Konflik geopolitik biasanya memicu penguatan dolar AS karena investor mencari aset yang lebih aman, sehingga rupiah cenderung melemah.

Pelemahan ini meningkatkan belanja negara, terutama untuk subsidi energi dan pembayaran kewajiban dalam valuta asing.

Yusuf memperkirakan setiap pelemahan rupiah sebesar Rp100 per dolar AS dapat meningkatkan belanja negara sekitar Rp6,1 triliun, sementara tambahan pendapatan hanya sekitar Rp5,3 triliun.

“Akibatnya, defisit tetap melebar sekitar Rp0,8 triliun untuk setiap pelemahan Rp100. Jika rupiah melemah hingga Rp1.500, maka tambahan tekanan terhadap defisit bisa mencapai sekitar Rp12 triliun,” tutur dia.

Baca juga: Kemenkeu: Penerimaan kepabeanan dan cukai Januari 2026 capai Rp22,6 T

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |