Jakarta (ANTARA) - Indonesia hidup di atas lanskap risiko yang terus mendera. Tsunami di sepanjang zona megathrust, hujan ekstrem yang memicu banjir bandang, longsor di wilayah pegunungan, hingga penurunan muka tanah di kota-kota pesisir.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyebut bencana di Sumatera akhir tahun 2025 yang meski menelan korban jauh lebih kecil dari tsunami Aceh 2004, kerusakan tata-ruang wilayahnya yang terdampak jauh lebih luas dan lebih besar.
Ambil contoh lokasi di Sibolga. Banjir bandang yang terjadi di Sibolga dan meluluhlantakkan hingga 1.666 titik infrastruktur, misalnya, pernah terjadi pula pada 25 Juli 1956. Semuanya bukan kejadian yang berdiri sendiri. Ancaman-ancaman ini berulang, dengan ritme yang sering kali melampaui usia satu generasi manusia.
Banjir bandang di Sibolga yang kembali terjadi setelah hampir tujuh dekade menunjukkan bahwa bahaya alam sering kali memiliki ingatan yang lebih panjang daripada masyarakat yang mengalaminya. Ketika memori kolektif terputus, ruang hidup yang sama kembali dihuni dengan kerentanan yang nyaris serupa, dan sering kali oleh kelompok sosial yang sama.
Tidak hanya di Sibolga, tetapi juga kita bisa melihat di lokasi bekas bencana masa lalu: Aceh, Teluk Babi, Banyuwangi, untuk menyebut beberapa dalam kaitan tsunami.
Ironisnya, justru di situlah letak persoalannya. Ketika jarak waktu antar-bencana terlalu panjang, kesadaran kolektif perlahan memudar terbang. Generasi yang lahir setelah sebuah bencana besar tumbuh di ruang yang sama, tetapi tanpa pengalaman langsung, tanpa trauma, dan sering kali tanpa cerita. Risiko pun menjadi sesuatu yang “tidak hadir” dalam keseharian. Sampai kembali muncul dengan daya rusak yang sama, atau bahkan lebih besar.
Dalam literatur kebencanaan, Fekete (2019) menyebutnya sebagai kurva pelupaan (forgetting curve). Konsepsi kurva pelupaan bermula dari pendekatan psikologis oleh Ebbinghaus (1880 – 1885). Proses penurunan “daya-ingat” seiring dengan bertambahnya waktu.
Dalam konteks kebencanaan, forgetting curve mengingatkan bahwa secara kapasitas ketangguhan kolektif bisa dibangun bersama melalui proses pelatihan dan mengembangkan katalog peristiwa ekstrim. Ingatan sosial kebencanaan membutuhkan “maintenance penguatan”, persis sama dengan infrastruktur fisik.
Sejarah kebencanaan Indonesia juga menunjukkan sisi lain yang membuka peluang dan harapan dari sisi ingatan kolektif. Beberapa komunitas yang selamat dari peristiwa bencana justru bukan karena teknologi modern, tetapi karena ingatan yang dijaga lintas generasi.
Ingatan yang menyelamatkan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































