Guru Besar Politik sebut soft power adalah fondasi Indonesia Emas

3 weeks ago 23
"Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang menjadi soal adalah bagaimana potensi itu dikelola. Di sinilah peran soft power menjadi sangat penting,"

Jakarta (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Politik dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof Yunanto mengatakan bahwa nilai, budaya, demokrasi, serta kualitas kebijakan publik yang dikenal sebagai soft power, harus menjadi fondasi utama pembangunan nasional untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Dia mengatakan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara maju dan berpengaruh pada saat memasuki usia satu abad kemerdekaan pada 2045. Namun peluang tersebut tidak akan tercapai hanya dengan mengandalkan kekayaan sumber daya alam dan jumlah penduduk yang besar.

"Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang menjadi soal adalah bagaimana potensi itu dikelola. Di sinilah peran soft power menjadi sangat penting," kata Yunanto dalam Orasi Ilmiah pada acara pengukuhan dirinya di Kampus UMJ, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Selasa.

Dia pun menyampaikan pesan dari kitab suci Al Quran dalam Al-Hasyr ayat 18 soal pentingnya menyiapkan masa depan dengan belajar dari apa yang telah dilakukan di masa lalu. Menurut dia, hal itu relevan dalam konteks Indonesia yang tengah menatap masa depan sebagai bangsa berusia 100 tahun.

“Masa depan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarahnya. Visi Indonesia Emas 2045 harus dibangun di atas refleksi yang jujur atas capaian dan kegagalan bangsa ini,” kata dia.

Pemerintah, kata dia, telah menetapkan visi Indonesia Emas 2045 sebagai negara maju, modern, berdaulat, berkeadilan, dan berpengaruh di dunia internasional. Visi tersebut mencakup pembangunan manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemerataan ekonomi, serta ketahanan nasional.

Optimisme terhadap visi ini juga, menurut dia, diperkuat oleh proyeksi ekonomi global. Laporan Goldman Sachs Global Economics Paper memprediksi Indonesia akan menjadi salah satu dari tujuh negara dengan kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045, sejajar dengan Amerika Serikat, China, India, Jepang, Jerman, dan Inggris.

“Optimisme ini bukan sekadar mimpi. Indonesia memiliki dasar objektif untuk mencapainya, asalkan dikelola dengan strategi yang tepat,” kata dia.

Ia menilai Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengelola soft power. Pada era Orde Lama, Indonesia memainkan peran penting dalam gerakan anti-kolonialisme dan Konferensi Asia Afrika 1955 yang melahirkan semangat Non-Blok.

Pada era Orde Baru, stabilitas, perdamaian, dan pluralisme menjadi daya tarik Indonesia di kawasan Asia Tenggara dan berkontribusi pada pembentukan ASEAN. Sementara pada era Reformasi, demokratisasi, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta moderasi beragama menjadi modal utama diplomasi Indonesia.

“Nilai-nilai ini telah membuat Indonesia dipercaya sebagai mediator konflik dan aktor regional yang moderat. Ini adalah aset soft power yang sangat berharga,” katanya.

Baca juga: Pakar: Llibur sekolah tak boleh hentikan MBG demi penuhi gizi anak

Baca juga: ISEF 2025, PSPP UMJ pamerkan produk desa binaan

Baca juga: UMJ-Pemkab Taliabu kolaborasi bangun desain kependudukan berbasis data

Baca juga: Mendes Yandri ajak UMJ berkolaborasi bangun desa

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |