Gubernur Bali sebut majelis putuskan takbiran di rumah saat Nyepi

6 days ago 12

Denpasar (ANTARA) - Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan hasil rapat dengan organisasi keagamaan di Bali memutuskan bahwa malam takbiran dilakukan di rumah masing-masing apabila berlangsung bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.

“Kemarin waktu rapat dengan semua majelis umat beragama sudah ada imbauan agar takbirannya dilaksanakan di rumah masing-masing, imbauan dari majelisnya begitu, bukan imbauan dari gubernur,” kata Koster di Denpasar, Senin.

Orang nomor satu di Pemprov Bali itu menyebut di beberapa kabupaten, organisasi keagamaannya seperti MUI dan Muhammadiyah sudah mengeluarkan arahannya.

Baca juga: Pertamina siagakan 24 jam 57 SPBU di Bali jelang Nyepi dan Idul Fitri

“Suatu langkah bagus di Denpasar sudah ada kesepakatan tidak ada takbiran, kemudian juga di Buleleng, bahkan di daerah yang biasanya ada takbiran jadi nanti itu tidak ada, dia lebih awal mengadakan takbiran,” ujarnya.

Dengan keputusan organisasi keagamaan demi memastikan kelancaran Hari Raya Nyepi itu, Koster memastikan tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

“Kalau itu terjadi semua, maka tanggal 19 Maret tidak ada takbiran, sehingga tidak ada hal yang perlu dirisaukan, aman lah, kondusif, dan saya sudah memfasilitasi untuk melakukan itu,” kata Gubernur Bali.

Jika berpatokan dengan sidang isbat pemerintah, Pemprov Bali melihat masih ada kemungkinan 1 Syawal berlangsung 21 Maret 2026, sehingga takbiran tidak bersamaan dengan Nyepi.

Sementara untuk Muhammadiyah dipastikan merayakan Idul Fitri 20 Maret atau berarti takbiran dilakukan saat Nyepi, tapi menurut Pemprov Bali tak masalah, karena jumlah jamaah tidak terlalu banyak. Sehingga, umat bisa diarahkan dengan pendekatan pimpinan organisasi untuk takbiran di rumah masing-masing.

Dalam Rapat Koordinasi Penanganan Konflik Sosial dalam rangka Nyepi dan Idul Fitri itu, Koster menyampaikan telah dipetakan sejumlah daerah rawan gesekan, seperti Denpasar, Buleleng, dan Jembrana.

Namun, selama ini Bali selalu berhasil mengatasi kemajemukan yang ada, seperti ketika Nyepi dan Idul Fitri seluruh tokoh organisasi keagamaan kompak memberikan seruan untuk menjaga ketertiban, keamanan, serta keharmonisan, sehingga kedua perayaan tersebut dapat berlangsung dengan penuh hikmat.

Baca juga: Hadapi Lebaran dan Nyepi, InJourney siapkan strategi hotel di Bali

Baca juga: Umat Islam di Bali boleh takbiran saat Nyepi tanpa pengeras suara

Tahun ini, Gubernur Bali melihat ada potensi konflik sosial yang perlu diantisipasi, sehingga perlu dikelola dengan baik.

“Kita juga perlu mewaspadai berbagai dinamika sosial, seperti kemungkinan munculnya narasi provokatif di media sosial, kurangnya pemahaman terhadap ketentuan pelaksanaan Nyepi oleh pendatang maupun wisatawan asing, serta potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat menjelang hari raya,” ujarnya.

Untuk itu, Pemprov Bali bersama TNI/Polri dan berbagai unsur memperkuat langkah-langkah strategis, seperti meningkatkan koordinasi lintas sektor, memperkuat deteksi dini terhadap potensi konflik sosial, mengoptimalkan peran aparat keamanan dan perangkat desa adat, serta mengedepankan pendekatan dialogis dan persuasif dalam menyelesaikan setiap persoalan yang muncul di masyarakat.

Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |