Gen Z "in this economy"

1 month ago 29

Jakarta (ANTARA) - Istilah in this economy atau yang secara harfiah berarti “dalam kondisi perekonomian saat ini”, setahun belakangan sering diucapkan oleh generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, baik di dunia nyata maupun maya.

Istilah ini mengacu pada iklim perekonomian makro, produksi, dan konsumsi saat ini yang mempengaruhi keputusan keuangan sehari-hari.

Bagi kebanyakan Gen Z, perekonomian mereka belakangan tidak terlalu stabil, menyusul inflasi, tingginya angka pengangguran muda, hingga peralihan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang tiada henti menghiasi pemberitaan dan diskusi di internet.

Peluang kerja bagi generasi muda menjadi salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan oleh pemangku kepentingan saat ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 sebanyak 284,4 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk diperkirakan sekira 1,11 persen per tahun.

Angka yang begitu besar ini pun turut dibarengi dengan puncak bonus demografi yang terjadi di Indonesia pada periode 2020-2030, di mana Gen Z atau mereka yang lahir pada rentang tahun 1997-2012, merupakan kelompok demografis terbesar di tanah air.

Menurut BPS, jumlah mereka mencapai sekitar 27,94 persen dari populasi, atau sekitar 74,93 juta jiwa pada tahun 2025.

Namun, bonus demografi tak hanya membuka peluang, melainkan juga bumerang jika tidak bisa dimanfaatkan dengan baik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan dalam negeri.

Data BPS juga menunjukkan sejumlah tantangan signifikan, dengan hampir 10 juta Gen Z (usia 15-24 tahun) masuk ke dalam kategori NEET (Tidak Bekerja, Tidak Sekolah, Tidak Pelatihan) pada 2023. Angka ini didominasi perempuan dan menunjukkan bahwa masih ada isu pengangguran muda dan kesenjangan keterampilan.

#KaburAjaDulu hingga transisi AI

Penggunaan teknologi digital khususnya media sosial merupakan hal yang tidak bisa lepas dari Gen Z. Awal tahun 2025 ini, tagar “Kabur Aja Dulu” sempat ramai disuarakan oleh anak-anak muda Indonesia di platform Twitter/X.

Banyak dari mereka menyoroti sulitnya mendapatkan pekerjaan yang laik, gaji dan apresiasi yang sepadan, persyaratan rekrutmen kerja yang lebih inklusif, hingga kepastian untuk bisa hidup dengan lebih stabil di masa mendatang.

Tagar ini pun seharusnya menjadi refleksi tersendiri bagi pemerintah agar dapat menciptakan banyak lapangan kerja bagi masyarakat muda.

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |