Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan gelombang laut di Nusa Tenggara Barat (NTB) saat ini berangsur kondusif dengan ketinggian rata-rata 1,25 sampai 2,5 meter imbas siklon tropis bergerak menjauh dari perairan selatan Indonesia.
"Hanya Samudera Hindia selatan NTB yang berpotensi gelombang tinggi 2,5 sampai 4 meter," kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB Anggi Dewita di Mataram, Sabtu.
Baca juga: BMKG terbitkan peringatan zona merah gelombang tinggi di NTB
BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Centre (TCWC) Jakarta melaporkan Bibit Siklon Tropis 91S yang sebelumnya terbentuk di Samudera Hindia selatan NTB pada Kamis (22/1) saat ini telah menguat menjadi Siklon Tropis Luana.
Cuaca buruk sempat terjadi saat sistem siklonik tersebut masih berada di perairan NTB. Bahkan, BMKG sempat mengeluarkan peringatan zona merah pelayaran akibat gelombang sangat tinggi yang mencapai 4 sampai 6 meter.
Bibit 91S yang telah menjadi Siklon Tropis Luana kini bergerak menuju daratan Dampier Peninsula di Australia Barat. Sistem badai yang menjauhi perairan selatan Indonesia membuat potensi dampak tidak langsung ke NTB semakin melemah.
"Kecepatan angin maksimum di wilayah NTB mencapai 45 kilometer per jam bergerak dari barat daya hingga barat laut," ujar Anggi.
Lebih lanjut, ia memaparkan tinggi gelombang laut kategori sedang 1,25 meter sampai 2,5 meter berada di Selat Lombok bagian utara dan selatan, Selat Alas bagian utara dan selatan, perairan utara Sumbawa, serta Selat Sape bagian selatan.
Baca juga: Bibit Siklon Tropis 97S memicu cuaca ekstrem di NTB
Baca juga: BMKG peringatkan gelombang laut hingga empat meter di NTB
Sedangkan gelombang tinggi kategori rendah antara 0,5 sampai 1,25 meter di Selat Sape bagian utara.
BMKG memprakirakan kondisi cuaca Nusa Tenggara Barat pada 24-25 Januari 2026, umumnya cerah berawan. Cuaca hujan berpotensi terjadi di beberapa daerah, seperti Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, dan Kabupaten Bima.
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































