Istanbul (ANTARA) - Jalur Gaza membutuhkan sekitar 450 ton tepung setiap hari, sementara pasokan yang tersedia saat ini hanya sekitar 200 ton, kata kantor media pemerintah Gaza, Ahad (12/4).
Dalam pernyataannya, kantor tersebut menuduh Israel memperkuat kebijakan “kelaparan yang direkayasa” di Jalur Gaza dengan membatasi pasokan tepung.
Meski terdapat kesepakatan gencatan senjata yang memungkinkan masuknya 600 truk bantuan per hari, Israel hanya mengizinkan sekitar 38 persen dari pasokan sebelum perang.
Krisis semakin memburuk setelah organisasi World Central Kitchen menghentikan dukungan pasokan tepung. Lembaga amal berbasis di Amerika Serikat (AS) itu sebelumnya menyediakan 20 hingga 30 ton tepung per hari.
Sementara itu, Program Pangan Dunia mengurangi pasokan dari 300 ton tepung menjadi 200 ton per hari.
Sejumlah organisasi lain juga dilaporkan menghentikan program roti dan tepung mereka di wilayah tersebut.
Sekitar 1,9 juta orang di Jalur Gaza, dari total populasi 2,4 juta jiwa, masih mengungsi dan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan serta sulit di tenda-tenda yang tidak layak setelah rumah mereka hancur akibat kekejian perang genosida Israel terhadap rakyat Palestina di wilayah kantong padat penduduk itu sejak 7 Oktober 2023.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, kondisi kehidupan belum mengalami perbaikan signifikan, di tengah kegagalan Israel untuk mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan sesuai kesepakatan, termasuk pangan, pasokan medis, dan bahan tempat tinggal.
Perang genosida Israel di Jalur Gaza itu telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai sekitar 172.000 lainnya, serta menyebabkan kerusakan luas terhadap sekitar 90 persen infrastruktur sipil.
Sumber: Anadolu
Baca juga: UNRWA sebut persediaan tepung di Gaza menipis
Baca juga: Menkeu Israel cegah pengiriman tepung ke Jalur Gaza
Penerjemah: Primayanti
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































