GAPKI tegaskan kewaspadaan perusahaan di wilayah rawan kebakaran

1 week ago 8
Seluruh anggota GAPKI harus meningkatkan kewaspadaan dan memastikan seluruh langkah pencegahan serta pengendalian karhutla dilaksanakan secara maksimal.

Jakarta (ANTARA) - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menegaskan pentingnya kewaspadaan seluruh perusahaan anggota khususnya pada wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut dan tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan, perkembangan situasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini membutuhkan perhatian dan keterlibatan langsung dari seluruh pihak, termasuk pimpinan perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Menurutnya, upaya pencegahan harus dilakukan secara maksimal, terukur, dan terdokumentasi sebagai bagian dari komitmen industri terhadap kepatuhan hukum dan perlindungan lingkungan.

“Seluruh anggota GAPKI harus meningkatkan kewaspadaan dan memastikan seluruh langkah pencegahan serta pengendalian karhutla dilaksanakan secara maksimal,” ujar Eddy.

Ia menambahkan, perusahaan perlu kembali memeriksa kesiapan seluruh sarana dan prasarana pengendalian karhutla.

Pemeriksaan tersebut mencakup kesiapan personel, peralatan pemadaman, sumber dan cadangan air, akses menuju lokasi kebakaran, sistem komunikasi, sarana patroli dan deteksi dini, alat pelindung diri, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya.

Khusus di wilayah lahan gambut dan daerah dengan tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi, GAPKI meminta perusahaan memberikan perhatian lebih terhadap kesiapan sumber air, sistem pembasahan, akses pemadaman, serta peralatan yang sesuai dengan kondisi lapangan.

Selain kesiapan sarana, GAPKI juga mengingatkan seluruh perusahaan anggota untuk memastikan tidak terdapat praktik pembukaan maupun pengolahan lahan dengan cara membakar.

“Prinsip tanpa membakar atau zero burning harus diterapkan secara konsisten sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Pengawasan juga perlu diperkuat terhadap seluruh aktivitas di wilayah operasional perusahaan, termasuk yang dilakukan pekerja, kontraktor, mitra kerja, maupun pihak lain yang bekerja untuk dan atas penugasan perusahaan.

“Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah terjadinya pembakaran yang bertentangan dengan ketentuan,” kata Eddy.

GAPKI selanjutnya meminta perusahaan meningkatkan patroli dan pemantauan, terutama di area yang memiliki risiko karhutla tinggi. Setiap indikasi berupa titik panas (hotspot), asap, maupun titik api harus segera diverifikasi dan ditindaklanjuti.

“Setiap indikasi kebakaran harus segera ditangani sesuai prosedur tanggap darurat dan kondisi faktual di lapangan. Jangan sampai api yang sebenarnya bisa dikendalikan sejak awal justru berkembang dan meluas,” ujar Eddy.

GAPKI juga menilai upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.

Oleh karena itu, keterlibatan pemerintah, perusahaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya diperlukan untuk menghadapi risiko karhutla, terutama di tengah kondisi cuaca dan lingkungan yang dapat meningkatkan potensi kebakaran.

“Pencegahan harus menjadi prioritas. Kita harus meningkatkan kewaspadaan, memperkuat kesiapsiagaan, dan bergerak cepat ketika ditemukan indikasi kebakaran,” kata Eddy.

Baca juga: GAPKI: Sawit jadi komoditas strategis penopang ekonomi Indonesia

Baca juga: GAPKI Dorong Gotong Royong dan Kesiapsiagaan Cegah Karhutla

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |