G7 waspadai pembatasan ekspor mineral oleh China

2 hours ago 4

Tokyo (ANTARA) - Para menteri perdagangan kelompok tujuh negara maju atau G7, Rabu (6/5), menyatakan pemerintah mereka siap menolak tindakan "pemaksaan ekonomi" secara terselubung, yang merujuk pada kontrol China atas ekspor terhadap mineral-mineral penting.

Setelah pertemuan para menteri itu di Paris, Menteri Perdagangan Luar Negeri Prancis Nicolas Forissier mengatakan KTT G7 akan diselenggarakan pada pertengahan Juni mendatang dengan agenda utama memperkuat rantai pasokan komoditas mineral penting tersebut.

Di Prancis, terdapat kekhawatiran terus-menerus soal dominasi China terhadap pasar logam tanah jarang (LTJ), yang biasanya digunakan manufaktur semikonduktor.

Baca juga: Jalur kereta China-Laos dorong ekspor "trio baru" ke Asia Tenggara

Sementara itu, dalam pertemuan itu, Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa menekankan pentingnya mempertahankan dan memperkuat rezim perdagangan multilateral, dengan mengekang pembatasan ekspor yang tidak adil.

Akazawa menyebutkan rekan-rekannya dari beberapa anggota G7 juga menyatakan keprihatinan tentang kemungkinan adanya kontrol ekspor lebih ketat, yang telah dilakukan China terhadap Jepang, merembet ke negara lain.

Dalam pernyataan resmi, para menteri G7 memiliki kekhawatiran serius mengenai pemaksaan ekonomi, termasuk melalui pembatasan ekspor sewenang-wenang yang dapat menyebabkan gangguan rantai pasokan.

Oleh karena itu, para menteri G7 menyatakan akan bekerja sama untuk memastikan bahwa upaya atau ancaman mempersenjatai ketergantungan ekonomi itu akan gagal.

Turut hadir dalam pertemuan itu ialah perwakilan perdagangan dari Amerika Serikat, Jamieson Greer.

Sumber: Kyodo​​​​​​​

Baca juga: RI mau jadi produsen "stainless steel" dan baterai EV dari hilirisasi

Baca juga: China umumkan pengendalian ekspor material superkeras, baterai

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |