Moskow (ANTARA) - Pemerintah Australia mengalokasikan tambahan dana 7,23 miliar dolar AS (Rp125 triliun) untuk meningkatkan cadangan bahan bakar dan menciptakan persediaan darurat guna memperkuat keamanan negaranya di tengah konflik Timur Tengah.
Paket tambahan dana itu mencakup sekitar 5,5 miliar dolar AS (Rp95 triliun) dalam bentuk dukungan keuangan untuk perusahaan migas serta sekitar 2,7 miliar dolar AS (Rp46,8 triliun) untuk cadangan bahan bakar nasional bagi sekitar 1 miliar liter diesel dan bahan bakar jet, menurut siaran Australian Broadcasting Corporation (ABC), Rabu.
Pemerintah Australia juga sedang menjajaki kebutuhan dan kelayakan pembangunan kilang baru atau memperluas kilang yang sudah ada.
Berdasarkan rencana yang diusulkan Pemerintah Australia, cadangan bensin di negara itu dilaporkan akan meningkat menjadi untuk kebutuhan 37 hari dan cadangan diesel dan bahan bakar jet menjadi sekitar 50 hari.
Baca juga: Krisis energi: Prancis gelontorkan dana darurat Rp1,22 triliun
Pada akhir Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran hingga menyebabkan kerusakan dan menelan korban sipil. AS dan Iran pun mengumumkan gencatan senjata selama pada awal April dan melakukan pembicaraan di Islamabad yang berakhir tanpa hasil.
Presiden AS Donald Trump pun memperpanjang gencatan senjata untuk memberi Iran waktu untuk mengajukan "proposal terpadu".
Eskalasi konflik tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Akibatnya, harga bahan bakar menjadi naik.
Baca juga: Australia alokasikan dana tambahan untuk bencana di Asia Pasifik
Trump pun sempat mengumumkan Project Freedom pada Minggu malam (3/5) untuk membantu kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz melanjutkan perjalanan mereka.
Namun, hanya berselang dua hari kemudian, Selasa (5/5), Trump memutuskan untuk menghentikan sementara operasi tersebut untuk melihat apakah kesepakatan damai dengan Iran dapat tercapai.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: PBB alokasikan bantuan darurat 100 juta dolar untuk tujuh negara
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































