Semarang (ANTARA) - Pergelaran Forum Bisnis Investasi Jawa Tengah atau Central Java Investment Bussiness Forum (CJIBF) 2026 menghasilkan sebanyak 40 letter of intent (LoI) atau nota minat investasi dengan nilai mencapai Rp16 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng Sakina Rosellasari di Semarang, Senin mengatakan capaian itu diperoleh dari rangkaian one on one meeting calon investor, pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, dan pelaku usaha.
Sebanyak 40 LoI tersebut merupakan hasil dari one on one meeting dari 21 proyek yang ditawarkan kepada calon investor, terdiri atas 17 proyek mencakup sektor energi terbarukan, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata hingga pertambangan.
Kemudian empat lainnya untuk kawasan industri utama di Jateng, yaitu Kendal Special Economic Zone, Industropolis Batang Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, dan Jatengland Industrial Park Sayung.
"Tentunya ini menjadi tugas dari DPMPTSP untuk mengawal. Kepeminatan yang kemudian sudah tanda tangan letter of intent ini kita kawal untuk betul-betul menjadi realisasi investasi," katanya.
Ia mengatakan para calon investor sangat antusias pada semua sektor yang ditawarkan, baik dalam negeri maupun luar negeri yang menyatakan komitmen awal untuk kerja sama bisnis atau investasi.
Adapun sektor yang menarik minat calon investor dalam negeri atau penanaman modal dalam negeri (PMDN), meliputi industri manufaktur, biomassa, geotermal, industri garam, serta mocaf dan hilirisasi produk pertanian.
"Ada penanaman modal asing (PMA) dan ada PMDN. PMA yang saya tahu ada dari Thailand, China, dan India. Kepeminatan itu kami kawal terus. Biasanya juga butuh waktu 1-2 tahun, realisasi itu tergantung pada negaranya (asal investor) untuk melakukan kajian," katanya.
Sakina menambahkan CJIBF digelar untuk mendorong pencapaian target investasi setiap tahun.
Tahun 2025, realisasi investasi di Jawa Tengah tercapai Rp110 triliun, sedangkan tahun ini target investasi yang masuk diharapkan bisa melebihi tahun sebelumnya.
Sementara itu, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyatakan bahwa CJIBF merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jateng dengan Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah untuk mempromosikan potensi investasi.
"Tujuannya untuk mempertemukan pengusaha atau calon investor, baik dalam negeri maupun luar negeri, dengan pemerintah, mitra pemerintah termasuk kawasan industri," katanya.
Ia menegaskan akan terus menggenjot sektor investasi di wilayah tersebut, mengingat sektor investasi memberikan kontribusi besar dalam perekonomian daerah.
Tingginya investasi itu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah triwulan I ini 5,89 persen, di atas rata-rata nasional 5,61 persen.
"Artinya, untuk meningkatkan ekonomi di wilayah kita perlu adanya forum-forum seperti ini," katanya.
Baca juga: Jateng siapkan 12 kawasan industri dan ekonomi khusus baru
Baca juga: 17 proyek investasi ditawarkan pada CJIBF 2026
Baca juga: China jadi salah satu kontributor utama investasi asing di Jawa Tengah
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































