Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eniya Listiani Dewi menyatakan dengan tidak adanya impor solar setelah mandatori B50 negara dapat menghemat devisa hingga sekitar Rp170 triliun.
"Meningkatkan devisa negara Rp170 triliun," kata Eniya di Jakarta, Selasa, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI.
Menurut dia, dengan adanya mandatori B-50 maka impor solar yang selama ini mencapai 18 juta kilo liter sudah dihentikan sehingga meningkatkan devisa negara.
Eniya mengatakan bahwa mandatori B50 juga berdampak pada lifting minyak di mana saat ini sudah bisa mencapai setengahnya dari lifting minyak 610 barel per day dan nabati menyumbang 300 ribu barel per day.
Selain itu kata dia, mandatori B50 juga berhasil meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan khususnya bahan baku dalam negeri dan menjadikan ketahanan energi lebih kuat.
Baca juga: Pertamina sebut 94 persen SPBU telah salurkan B50
Baca juga: AKRA siap dukung program mandatori biodiesel B50
"Kalau lifting minyak kita 610 ribu barel per day maka lifting minyak dari nabati sudah mencapai setengahnya yaitu 300 ribu barel per day," ujarnya.
Eniya menambahkan bahwa manfaat penggunaan biosolar juga dirasakan pada lingkungan, di mana dari data yang ada dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 44,46 juta ton pada 2026.
"Tenaga kerja juga meningkat hingga 2,1 juta orang pada 2026, setelah mandatori B50," katanya menambahkan.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyatakan bahwa hingga 5 September 2026 sebanyak 6.050 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau 94 persen telah menyalurkan mandatori biodiesel B50, dari total 6.412 SPBU yang ada.
"Masih 362 SPBU yang belum menyalurkan B50 karena masih menyalurkan B40," kata Ega.
Ega mengatakan bahwa dari laporan Marketing Operation Region (MOR) yang tersebar di delapan wilayah, rata-rata sudah menyalurkan B50 di atas 90 persen hanya satu MOR yang berada di Maluku dan Papua baru 65 persen.
"Untuk di Maluku dan Papua masih menghabiskan stok B40, karena stok masih cukup banyak," ujarnya.
Baca juga: Kementerian ESDM mencatat penyaluran B50 capai 80 persen
Baca juga: BPH Migas: Distribusi B50 berjalan lancar dan tak rusak mesin
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































