Jakarta (ANTARA) - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) mendorong implementasi edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren sebagai upaya mencegah kekerasan seksual sekaligus meningkatkan kesehatan reproduksi remaja.
Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Masyarakat Alissa Qatrunnada Wahid mengatakan, pendidikan kesehatan reproduksi diperlukan untuk membangun pemahaman yang benar di lingkungan pesantren sehingga dapat mendukung pencegahan kekerasan seksual.
"Kita ingin segera mengantisipasi dan mempersiapkan ekosistem pesantren agar pemahaman terkait kesehatan reproduksinya lebih baik sehingga kita bisa menanggulangi persoalan kekerasan seksual yang ada di pesantren," kata Alissa dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurutnya, pencegahan kekerasan seksual tidak cukup hanya melalui penegakan aturan, tetapi juga harus dibarengi dengan pendidikan yang membangun pemahaman sejak dini mengenai kesehatan reproduksi.
Baca juga: Alissa Wahid: Gerakan Keluarga Maslahat NU jangkau 1,5 juta keluarga
Alissa menilai masih banyak masyarakat yang keliru memahami kesehatan reproduksi. Selama ini, istilah tersebut sering dipersepsikan hanya berkaitan dengan perilaku seksual, padahal ruang lingkupnya jauh lebih luas.
"Selama ini banyak pemahaman yang salah terkait kesehatan reproduksi. Dikira kesehatan reproduksi itu melulu hanya soal perilaku seksual, padahal kesehatan reproduksi juga bicara angka kematian ibu, bayi, dan anak. Kemudian, juga berbicara mengenai anemia pada anak-anak muda yang akan memengaruhi proses reproduksinya ketika nanti sudah menikah," tuturnya.
Ia menambahkan kesehatan reproduksi tidak hanya berkaitan dengan perilaku seksual, tetapi juga mencakup pencegahan anemia, penurunan angka kematian ibu dan bayi, serta persiapan remaja menjadi calon orang tua yang sehat.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan Evi Nilawaty mengatakan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja menjadi salah satu upaya penting menurunkan angka kematian ibu dan mencegah stunting.
Menurut data Kementerian Kesehatan, angka kematian ibu di Indonesia ditargetkan turun dari 183 per 100.000 kelahiran hidup pada 2024 menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup pada 2030 sesuai target Sustainable Development Goals (SDGs), meski saat ini masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara ASEAN.
Dalam kesempatan yang sama, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Masthuriyah Abdul Barri menilai pendidikan kesehatan reproduksi penting diberikan kepada santri, terutama yang memasuki masa pubertas, dengan pendampingan dari kiai, nyai, dan pembimbing asrama.
Baca juga: GKMNU: Festival Keluarga Indonesia upaya perluas maslahat keluarga
Baca juga: Kemendukbangga-PBNU wujudkan keluarga berkualitas melalui GKMNU
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































